Rupiah Sentuh Level Rp18.200 per Dolar AS, BI dan Pemerintah Perkuat Langkah Stabilisasi


[Rupiah Tembus Rp18.200 per Dolar AS, BI Siapkan Langkah Tarik Modal Asing/Pixabay]

SuaraGarut.id – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan. Mata uang Garuda bahkan sempat menyentuh level Rp18.200 per dolar AS, yang menjadi titik tertinggi pelemahan rupiah sepanjang tahun 2026.

Berdasarkan data pasar keuangan, rupiah sempat berada di posisi Rp18.200 per dolar AS pada Senin (8/6/2026) pagi. Sementara itu, data Bloomberg menunjukkan nilai tukar rupiah berada di level Rp18.185 per dolar AS pada pukul 15.01 WIB, melansir dari pikiran-rakyat.com.

Merespons kondisi tersebut, Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus meningkatkan kembali minat investor asing terhadap instrumen keuangan domestik.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan terdapat sejumlah langkah yang telah disepakati untuk memperkuat ketahanan pasar keuangan nasional di tengah meningkatnya tekanan global.

"Ada dua yang berkaitan dengan penguatan koordinasi moneter-fiskal untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. Yang pertama adalah meningkatkan daya tarik atau imbal hasil supaya portofolio inflow kembali masuk," kata Perry dalam konferensi pers bersama sejumlah pejabat pemerintah dan DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta.

Menurut Perry, kenaikan suku bunga yang terjadi di sejumlah negara telah memicu arus keluar modal dari berbagai instrumen keuangan di Indonesia, mulai dari pasar saham, Surat Berharga Negara (SBN), hingga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

"Oleh karena itu, fiskal dan moneter sepakat untuk sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil supaya inflow ini kembali masuk besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," ujarnya.

Di sisi lain, pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Didik J. Rachbini, menilai tekanan terhadap rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor global, tetapi juga berkaitan dengan tingkat kepercayaan investor terhadap kondisi ekonomi nasional.

Menurut Didik, pasar membutuhkan kepastian hukum, konsistensi kebijakan pemerintah, tata kelola yang baik, serta komunikasi yang kredibel untuk memulihkan kepercayaan investor.

"Jika tidak, kita akan melihat sebaliknya, trust menurun, modal cenderung keluar dari pasar keuangan, permintaan valas meningkat, dan tekanan terhadap rupiah membesar. Itulah yang terjadi saat ini, rupiah tergerus, indeks saham jatuh," ujar Didik.

Para pelaku pasar kini menantikan efektivitas langkah-langkah yang disiapkan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah, sekaligus mengembalikan aliran modal asing ke pasar keuangan domestik di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.

  • -

0 Komentar :

    Belum ada komentar.

Mungkin anda suka