Beranda Panduan Lengkap Salat Gerhana Kusuf dan Khusuf Berdasarkan Hadis Sahih

Panduan Lengkap Salat Gerhana Kusuf dan Khusuf Berdasarkan Hadis Sahih

Oleh, Redaksi
3 jam yang lalu - waktu baca 3 menit
Salat Gerhana Tanpa Azan dan Iqamah, Ini Tata Cara dan Dalilnya/freepik

SuaraGarut.id - Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan merupakan fenomena alam yang menumbuhkan rasa takjub manusia terhadap keteraturan ciptaan Allah. Dalam pandangan Islam, peristiwa tersebut bukan sekadar gejala astronomi, tetapi termasuk ayat-ayat Allah yang menunjukkan kebesaran-Nya serta menjadi momentum untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Rasulullah Saw mencontohkan agar umat Islam menyambut gerhana dengan ibadah khusus, yakni salat gerhana (shalat kusuf untuk Gerhana Matahari dan khusuf untuk Gerhana Bulan). Ibadah ini menjadi sarana untuk memperbanyak zikir, doa, istigfar, dan refleksi spiritual.

Dasar Disyariatkannya Salat Gerhana

Pelaksanaan salat gerhana didasarkan pada hadis sahih yang diriwayatkan oleh Sayyidah ‘Aisyah ra. Ia menuturkan secara rinci tata cara Rasulullah Saw saat terjadi gerhana:

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ: خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِي حَيَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَقَامَ فَكَبَّرَ، وَصَفَّ النَّاسُ وَرَاءَهُ، فَاقْتَرَأَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً، ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ، ثُمَّ قَامَ فَاقْتَرَأَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً هِيَ أَدْنَى مِنَ الْقِرَاءَةِ الْأُولَى، ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا هُوَ أَدْنَى مِنَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ، ثُمَّ قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ، ثُمَّ سَجَدَ، ثُمَّ فَعَلَ فِي الرَّكْعَةِ الْأُخْرَى مِثْلَ ذَلِكَ، حَتَّى اسْتَكْمَلَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ، وَانْجَلَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَنْصَرِفَ، ثُمَّ قَامَ فَخَطَبَ النَّاسَ، فَأَثْنَى عَلَى اللَّهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ، ثُمَّ قَالَ: إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلَاةِ.
(رواه مسلم)

Dari ‘Aisyah, istri Nabi Saw, ia berkata: “Terjadi gerhana Matahari pada masa Rasulullah Saw. Beliau keluar menuju masjid, lalu berdiri dan bertakbir, sementara orang-orang berbaris di belakang beliau. Rasulullah membaca bacaan yang panjang, kemudian bertakbir dan rukuk dengan rukuk yang lama. Lalu beliau mengangkat kepalanya seraya mengucapkan: ‘Sami‘allāhu liman ḥamidah, rabbanā wa lakal-ḥamd.’ Kemudian beliau berdiri lagi dan membaca bacaan panjang, namun lebih pendek dari bacaan pertama. Lalu bertakbir dan rukuk panjang, tetapi lebih pendek dari rukuk pertama. Kemudian beliau mengucapkan: ‘Sami‘allāhu liman ḥamidah, rabbanā wa lakal-ḥamd,’ lalu sujud. Beliau melakukan hal yang sama pada rakaat kedua hingga sempurna empat rukuk dan empat sujud. Matahari kembali terang sebelum beliau selesai salat. Setelah itu beliau berdiri dan berkhutbah kepada manusia, memuji Allah sebagaimana mestinya, lalu bersabda: ‘Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang. Maka apabila kalian melihatnya, bersegeralah menuju salat.’” (HR. Muslim).

Tata Cara Salat Gerhana

Salat gerhana dilaksanakan secara berjamaah tanpa azan dan iqamah. Sebagai pengganti panggilan salat, imam menyerukan “Aṣ-ṣalātu jāmi‘ah”. Ciri khas utama salat ini adalah dua kali rukuk dan dua kali berdiri dalam setiap rakaat.

Rakaat Pertama:

  • Membaca niat dan takbiratul ihram.

  • Membaca surah al-Fatihah dan surah panjang dengan suara lantang (jahar).

  • Rukuk pertama dengan bacaan tasbih yang panjang.

  • I’tidal dengan membaca “Sami‘allāhu li man ḥamidah”, makmum menjawab “Rabbanā wa lakal-ḥamd”.

  • Berdiri kembali, membaca al-Fatihah dan surah panjang (lebih pendek dari bacaan pertama).

  • Rukuk kedua dengan durasi lebih singkat dari rukuk pertama.

  • I’tidal kembali.

  • Sujud, duduk di antara dua sujud, lalu sujud kedua.

Rakaat Kedua:

  • Dilaksanakan dengan pola yang sama seperti rakaat pertama (dua kali berdiri dan dua kali rukuk).

  • Diakhiri dengan tasyahud dan salam.

Khutbah Setelah Salat

Setelah salat selesai, imam menyampaikan khutbah satu kali. Isi khutbah berisi pujian kepada Allah, nasihat tentang tanda-tanda kebesaran-Nya, ajakan memperbanyak istigfar, sedekah, serta anjuran meningkatkan amal kebajikan.

Melalui salat gerhana, umat Islam diajak untuk tidak sekadar menyaksikan fenomena alam, tetapi menjadikannya sebagai momentum memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.

Sumber Muhammadiyah 

Rekomendasi

0 Komentar

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.