- Oleh Redaksi
- 26, Apr 2026
SuaraGarut.id - Wabah hantavirus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius menjadi perhatian dunia internasional setelah tiga penumpang dilaporkan meninggal dunia. World Health Organization (WHO) turut mengingatkan potensi munculnya kasus baru karena virus tersebut memiliki masa inkubasi yang dapat berlangsung hingga enam minggu.
Hantavirus merupakan kelompok virus yang dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus, tupai, hamster, hingga marmut. Penularan ke manusia umumnya terjadi saat seseorang menghirup partikel udara yang telah terkontaminasi kotoran, urine, atau air liur tikus yang mengering.
Paparan virus paling sering terjadi ketika seseorang membersihkan area tertutup seperti gudang, loteng, rumah kosong, atau lokasi yang pernah menjadi sarang tikus. Penularan juga dapat terjadi melalui sentuhan pada permukaan terkontaminasi sebelum menyentuh mulut, hidung, maupun mata. Dalam kasus tertentu, gigitan tikus juga dapat menjadi media penularan.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), hantavirus dapat memicu dua penyakit serius, yakni hantavirus pulmonary syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal.
Gejala awal infeksi hantavirus umumnya menyerupai flu biasa, mulai dari demam, menggigil, nyeri otot, sakit kepala, tubuh lemas, mual, muntah, diare, hingga nyeri perut. Namun pada beberapa kasus, kondisi dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan serius seperti sesak napas, batuk, penumpukan cairan di paru-paru, tekanan darah rendah, hingga gangguan fungsi jantung.
Peneliti virus asal Australia, Paul Griffin, menyebut terdapat sekitar 150 ribu hingga 200 ribu kasus hantavirus setiap tahun di dunia, meskipun penularan antarmanusia tergolong sangat jarang terjadi.
Sementara itu, Dr. Sonja Bartolome mengungkapkan bahwa deteksi dini hantavirus cukup sulit dilakukan karena gejala awalnya sangat mirip dengan flu biasa.
"Pada tahap awal penyakit, Anda mungkin benar-benar tidak dapat membedakan antara hantavirus dan flu," kata Dr. Sonja Bartolome dari UT Southwestern Medical Center di Dallas.
Hingga kini, belum tersedia obat khusus untuk menangani hantavirus. Penanganan medis dilakukan melalui perawatan suportif seperti pemberian oksigen, penggunaan ventilator, hingga dialisis untuk pasien dengan kondisi berat.***
Belum ada komentar.