Beranda Ali Khamenei Wafat, Iran Memasuki Babak Baru Pasca Empat Dekade Kepemimpinan

Ali Khamenei Wafat, Iran Memasuki Babak Baru Pasca Empat Dekade Kepemimpinan

Oleh, Redaksi
1 jam yang lalu - waktu baca 3 menit
Ketua Revolusyen Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei. (Dok. Khamenei.ir)

SuaraGarut.id – Iran resmi mengumumkan masa berkabung nasional setelah Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ali Khamenei, dipastikan tewas dalam serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu pagi.

Serangan tersebut merupakan bagian dari rangkaian operasi militer gabungan yang menyasar sejumlah wilayah strategis di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Selain menghantam area vital, serangan itu juga menimbulkan kerusakan infrastruktur serta korban jiwa dari kalangan sipil, melasnir dari Antara.

Kabar wafatnya Khamenei sempat diwarnai simpang siur informasi antara media Iran dan media Barat. Hingga Sabtu siang, sejumlah pejabat Iran menyatakan bahwa sang pemimpin dalam kondisi sehat dan tetap memegang kendali. Namun, pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump menyatakan secara terbuka bahwa Khamenei telah tewas setelah ia memberikan persetujuan atas operasi tersebut.

“Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah tewas,” tulis Trump di media sosial.

Pemerintah Iran kemudian menetapkan masa berkabung selama 40 hari dan meliburkan aktivitas kerja selama satu pekan. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bersama Angkatan Darat Iran menyatakan komitmen untuk membalas serangan tersebut. Ulama Syiah Ayatollah Makarem Shirazi bahkan menyerukan “perang suci” terhadap AS dan Israel.

Perjalanan Panjang Kepemimpinan

Wafatnya Khamenei menandai akhir dari era panjang kepemimpinannya yang berlangsung lebih dari empat dekade. Ia menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi sejak 1989, menggantikan Ruhollah Khomeini, tokoh utama Revolusi Islam Iran 1979. Sebelumnya, Khamenei menjabat sebagai Presiden Iran periode 1981—1989.

Lahir di Mashhad pada 19 April 1939, Khamenei menempuh pendidikan agama di Qom dan menjadi murid Khomeini. Kedekatan keduanya membuka jalan bagi Khamenei untuk berperan penting dalam pemerintahan pasca revolusi yang menggulingkan Shah Reza Pahlavi.

Pada 27 Juni 1981, ia selamat dari percobaan pembunuhan saat berkhutbah di sebuah masjid di Teheran. Ledakan dari alat perekam yang ditempatkan di mimbar menyebabkan tangan kanannya lumpuh.

Sebagai pemimpin tertinggi, Khamenei mengonsolidasikan pengaruhnya di berbagai sektor, mulai dari militer, peradilan, hingga kebijakan luar negeri. Ia dikenal sebagai penggagas “Poros Perlawanan” (Axis of Resistance) yang memposisikan Iran berhadapan dengan AS dan Israel, dengan menjalin aliansi bersama kelompok seperti Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman.

Di bidang ekonomi, ia mendorong konsep “ekonomi perlawanan” untuk mengurangi dampak sanksi Barat melalui peningkatan produksi domestik dan pengurangan ketergantungan pada ekspor minyak.

Terkait program nuklir, Khamenei mendukung pengembangan teknologi nuklir sebagai simbol kedaulatan nasional, namun menolak kepemilikan senjata nuklir dan mengeluarkan fatwa yang melarangnya. Pada 2015, Iran bersama lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan Uni Eropa menyepakati Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA). Kesepakatan itu runtuh setelah AS menarik diri pada 2018 dan kembali menjatuhkan sanksi. Pada 2025, Iran menyatakan keluar dari JCPOA.

Kepemimpinannya juga diwarnai berbagai gelombang protes domestik, termasuk demonstrasi pascapemilu 2009, protes 2019—2020, protes Mahsa Amini 2022, hingga unjuk rasa yang muncul pada Desember 2025. Respons keras pemerintah terhadap aksi-aksi tersebut menuai kritik internasional.

Transisi Kepemimpinan

Serangan yang menewaskan Khamenei disebut-sebut sebagai upaya menciptakan kekosongan kekuasaan di Iran. Namun, pengamat menilai sistem politik Republik Islam telah memiliki mekanisme transisi yang mapan.

Akademisi Universitas Padjadjaran Dina Sulaeman menilai struktur ideologis dan institusional Iran telah terbangun kuat selama lebih dari empat dekade.

“Pengalaman wafatnya Imam Ruhollah Khomeini pada 1989 menunjukkan bahwa transisi bisa berjalan tanpa mengguncang fondasi negara,” kata Dina.

Menurutnya, pengganti Khamenei harus berasal dari kalangan ulama bergelar Ayatollah. “Iran punya banyak Ayatollah,” ujarnya.

Sesuai konstitusi, Majelis Ahli Iran akan bersidang untuk memilih Pemimpin Tertinggi yang baru. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, memastikan proses tersebut segera dimulai.

"Menurut pasal 111 Konstitusi Iran, dalam hal kematian pemimpin tertinggi, Majelis Ahli harus memilih pemimpin tertinggi yang baru secepatnya," kata Larijani, sebagaimana disiarkan televisi nasional Iran.

Setelah 36 tahun memimpin sebagai pengawal Revolusi Islam, Ali Khamenei gugur dalam serangan yang disebut penyiar televisi IRIB sebagai wafatnya “seorang syahid”. Kini, Iran bersiap menentukan pemimpin baru yang akan melanjutkan arah kebijakan negara di tengah tekanan dan dinamika geopolitik yang terus memanas.

 

Rekomendasi

0 Komentar

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.