Dari Arena PON ke Ranjang Sakit, Perjuangan Sunyi Atlet Rugby Asal Garut
SuaraGarut.id – Nama Siti Nur Rahayu sempat tercatat sebagai kebanggaan Garut dan Jawa Barat saat membela daerahnya di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) 2024 di Sumatera Utara dan Aceh. Namun kini, prestasi tersebut tinggal kenangan. Atlet rugby putri berusia 25 tahun itu harus berjuang melawan penyakit serius yang membuatnya terbaring lemah selama hampir dua bulan terakhir.
Di rumah sederhananya yang berada di Kampung Seni Baru, Kelurahan Jayawaras, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Siti menjalani hari-hari dengan kondisi fisik yang terus melemah. Dokter menyatakan ia mengalami pecah usus, penyakit berat yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan serta tindakan operasi.
Sayangnya, proses pengobatan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Keterbatasan ekonomi keluarga membuat Siti kesulitan melanjutkan perawatan medis yang dibutuhkan. Kondisi tersebut diperparah dengan ketiadaan jaminan kesehatan BPJS, sehingga seluruh biaya pengobatan harus ditanggung secara mandiri oleh keluarga.
“Saya sekarang hanya ingin sembuh. Mau berobat dan operasi, tapi kami benar-benar bingung soal biaya,” ungkap Siti Nur Rahayu lirih, menahan rasa sakit.
Ironisnya, Siti merupakan satu-satunya atlet rugby putri asal Garut yang berhasil menembus level PON. Ia pernah berdiri di lapangan membawa nama daerahnya di ajang olahraga nasional terbesar. Kini, sorak sorai penonton dan kebanggaan tersebut terasa semakin jauh.
Siti mengaku hampir tidak mendapatkan perhatian dari pihak-pihak yang sebelumnya menaunginya di dunia olahraga, termasuk pemerintah daerah maupun organisasi olahraga terkait. Selain menahan rasa sakit secara fisik, tekanan psikologis juga turut dirasakan akibat perasaan seolah dilupakan setelah masa pengabdian sebagai atlet.
“Saya dulu bertanding membawa nama Garut dan Jawa Barat. Sekarang saya hanya berharap ada yang peduli,” ucap Siti dengan nada getir.
Saat ini, Siti masih membutuhkan tindakan medis lanjutan, termasuk pemeriksaan MRDIS untuk memastikan kondisi usus yang dideritanya. Namun kembali, keterbatasan biaya menjadi penghalang utama yang belum teratasi.
Kisah Siti Nur Rahayu menjadi potret nyata tentang nasib atlet daerah yang kerap luput dari perhatian setelah masa kejayaan berlalu. Lebih dari sekadar cerita tentang sakit, kondisi ini menjadi pengingat akan pentingnya tanggung jawab dan keberpihakan terhadap mereka yang pernah mengharumkan nama daerah di pentas nasional.***
0 Komentar
Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.