Edukasi Anti-Bullying Sejak Dini, DPPKBPPPA Garut Tekankan Peran Anak sebagai Pelopor Kebaikan


[Foto bersama]

SuaraGarut.id – Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBPPPA) Kabupaten Garut terus mengintensifkan edukasi pencegahan bullying di kalangan pelajar. Melalui kegiatan kunjungan edukatif siswa SDIT Persis Tarogong, anak-anak diberikan pemahaman sederhana namun mendalam tentang bahaya perundungan serta cara mencegahnya.

Kepala DPPKBPPPA Kabupaten Garut, Yayan Waryana, menegaskan bahwa bullying merupakan perilaku menyakiti orang lain yang dilakukan secara sengaja dan berulang, baik melalui kata-kata, tindakan fisik, maupun media sosial.

“Bullying itu bukan sekadar bercanda, tetapi tindakan yang bisa menyakiti orang lain. Ini penting dipahami anak-anak sejak dini agar mereka bisa saling menghargai,” ujar Yayan, didampingi Kepala Bidang Perlindungan Anak, Linlin, saat memberikan edukasi.

Yayan menjelaskan berbagai bentuk bullying dengan bahasa yang mudah dipahami anak. Mulai dari bullying fisik seperti memukul atau mendorong, verbal seperti mengejek dan menghina, hingga bullying sosial seperti mengucilkan teman.

Selain itu, ia juga menyoroti maraknya cyberbullying, yaitu perundungan melalui media sosial atau grup percakapan yang kini semakin sering terjadi di kalangan anak-anak.

1001449131.jpg

“Contohnya seperti menghina di grup WhatsApp atau menyebarkan foto tanpa izin. Ini juga termasuk bullying dan dampaknya bisa sangat besar bagi korban,” jelasnya.

Yayan menambahkan, dampak bullying tidak hanya dirasakan oleh korban, tetapi juga pelaku. Korban bisa mengalami rasa takut, kehilangan kepercayaan diri, hingga trauma. Sementara pelaku berpotensi terbiasa melakukan kekerasan dan bahkan berurusan dengan hukum.

1001449266.jpg

“Karena itu, kita tanamkan nilai empati, saling menghargai, dan keberanian untuk berkata benar. Anak-anak harus berani mengatakan tidak pada bullying,” tegasnya.

Dalam sesi edukasi, siswa juga diajak memahami langkah-langkah pencegahan bullying. Jika melihat kejadian bullying, anak-anak diminta untuk tidak ikut tertawa, membantu korban, serta melaporkan kepada guru atau orang dewasa.

Sementara bagi korban, Yayan mendorong agar berani bersikap tegas dengan mengatakan “stop”, menjauhi pelaku, serta menceritakan kejadian yang dialami kepada pihak yang dipercaya.

Tak hanya itu, kegiatan juga diisi dengan simulasi atau role play, di mana siswa dibagi menjadi kelompok pelaku, korban, dan penolong. Melalui metode ini, anak-anak diajak memahami situasi secara langsung serta mendiskusikan solusi yang tepat.

“Kita ingin anak-anak bukan hanya paham, tapi juga berani menjadi pelopor anti-bullying di lingkungannya,” tambah Linlin.

DPPKBPPPA juga mengenalkan layanan pengaduan bagi korban kekerasan, seperti UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) serta Satgas Perlindungan Anak yang siap memberikan pendampingan.

Kegiatan ini ditutup dengan komitmen bersama dari para siswa untuk menolak segala bentuk bullying.

“Semua anak berharga dan harus dilindungi. Tidak boleh ada kekerasan di sekolah. Kita semua bisa menjadi pelopor anti-bullying,” pungkas Yayan.

Melalui edukasi ini, diharapkan kesadaran akan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari bullying dapat semakin meningkat di kalangan generasi muda.

  • -

0 Komentar :

    Belum ada komentar.

Mungkin anda suka