- Oleh Redaksi
- 12, Jul 2026
SuaraGarut.id - Perkumpulan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) melakukan kunjungan pembinaan ke Taman Satwa Cikembulan, Kabupaten Garut, Sabtu (11/7/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas pengelolaan lembaga konservasi melalui evaluasi, pendampingan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Kegiatan tersebut dihadiri Koordinator Wilayah PKBSI DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten Endah Rumiyati, Ketua Bidang Organisasi, Hukum dan Keanggotaan PKBSI Prof. Dr. Gono Semiadi, Ketua Bidang Etika dan Kesejahteraan Satwa PKBSI Wisnu Wardana, serta jajaran pengelola Taman Satwa Cikembulan.
Koordinator Wilayah PKBSI DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, Endah Rumiyati, mengatakan kunjungan tersebut bertujuan melihat langsung kondisi pengelolaan Taman Satwa Cikembulan sekaligus mengidentifikasi kebutuhan yang dapat difasilitasi organisasi.
"Kami ingin mengetahui bagaimana pengelolaan satwanya, bagaimana keberlanjutannya, serta apa saja kebutuhan Taman Satwa Cikembulan yang bisa difasilitasi oleh PKBSI. Salah satunya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui kerja sama dengan para pembina yang ada di PKBSI," ujarnya.
Dari hasil peninjauan awal, Endah menilai administrasi dan tata kelola Taman Satwa Cikembulan sudah berjalan cukup baik, meski evaluasi menyeluruh masih akan dilakukan terhadap seluruh kawasan.
"Secara administrasi dan pengelolaan awal sudah baik. Kami baru mulai berkeliling sehingga belum melihat keseluruhan kondisi, tetapi sejauh ini penilaian kami cukup baik," katanya.
Endah juga menjelaskan bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 22 Tahun 2019, Taman Satwa Cikembulan termasuk kategori Lembaga Konservasi Umum yang memiliki fungsi konservasi, edukasi, dan pengembangbiakan satwa.
Menurutnya, hingga saat ini terdapat sekitar 84 lembaga konservasi umum berizin di Indonesia dan sebanyak 55 di antaranya telah menjadi anggota PKBSI.
Selain tata kelola, keberadaan dokter hewan dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan satwa serta memastikan kebutuhan nutrisi dan kesejahteraannya tetap terpenuhi.
"Yang paling penting selain manajemen adalah keberadaan dokter hewan yang benar-benar mengontrol kesehatan satwa dan juga mengawasi nutrisi. Sebagian besar lembaga konservasi sudah memiliki dokter hewan, meskipun ada beberapa lembaga yang masih menggunakan dokter hewan tidak tetap," pungkasnya.
Ketua Bidang Organisasi, Hukum, dan Keanggotaan PKBSI, Prof. Dr. Gono Semiadi, mengatakan pembinaan dilakukan untuk membantu anggota menghadapi berbagai persoalan dalam penerapan standar lembaga konservasi.
"Kami ingin mengetahui permasalahan apa yang dihadapi anggota dan apa yang bisa dibantu oleh organisasi. Fokus kami lebih kepada aspek-aspek yang berkaitan dengan peraturan dan standar pengelolaan lembaga konservasi," ujarnya.
Ia menjelaskan, setiap lembaga konservasi wajib menjalani proses penilaian yang mencakup administrasi, kesehatan satwa, kesejahteraan satwa (animal welfare), hingga keberlanjutan pengelolaan.
"Hasil penilaian itu akan menentukan kategori atau nilai suatu lembaga konservasi. Tentu harapan kami seluruh anggota PKBSI dapat memperoleh hasil yang baik karena telah memenuhi standar yang ditetapkan," katanya.
Menurut Gono, tujuan utama kunjungan tersebut adalah memastikan pengelolaan Taman Satwa Cikembulan terus berkembang mengikuti standar konservasi yang berlaku.
"Kami berharap setiap lembaga konservasi mampu mengikuti perkembangan zaman dengan memenuhi standar minimum pengelolaan. Itu yang menjadi tujuan utama kami datang ke sini," jelasnya.
Sementara Manajer Operasional Taman Satwa Cikembulan, Rudy Aripin, mengatakan kunjungan tersebut bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan bagian dari pembinaan rutin organisasi terhadap anggotanya sebagai lembaga konservasi.
Menurut Rudy, sejak berdiri Taman Satwa Cikembulan telah menjadi anggota PKBSI sehingga berbagai aspek pengelolaan menjadi perhatian organisasi, mulai dari administrasi hingga program konservasi.
"PKBSI ingin melihat sejauh mana Taman Satwa Cikembulan berpartisipasi sebagai lembaga konservasi, sekaligus mengetahui kebutuhan yang diperlukan agar pengelolaan taman satwa semakin baik," ujarnya.
Ia menjelaskan, berbagai masukan diberikan dalam kunjungan tersebut, mulai dari pembaruan data satwa, penguatan program konservasi, hingga peluang kerja sama yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan.
Rudy menambahkan, pengelolaan lembaga konservasi tidak dapat dilakukan secara mandiri sehingga membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Salah satu bentuk kerja sama yang telah berjalan yakni pemanfaatan buah yang tidak layak jual dari perusahaan sebagai pakan satwa melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Selain itu, koordinasi dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) juga terus dilakukan dalam mendukung program rehabilitasi maupun pelepasliaran satwa ke habitat alaminya.
"Kalau ada yang masih kurang tentu harus kita benahi, sementara yang sudah baik harus terus dipertahankan. Itu menjadi tantangan bagi kami," katanya.
Ke depan, Rudy berharap PKBSI dapat semakin memperkuat pendampingan, terutama dalam penyediaan tenaga ahli seperti dokter hewan dan narasumber yang dapat membantu peningkatan kualitas konservasi di Taman Satwa Cikembulan.
Sementara itu, Ketua Bidang Etika dan Kesejahteraan Satwa PKBSI, Wisnu Wardana, menegaskan bahwa keberhasilan lembaga konservasi tidak hanya diukur dari jumlah koleksi satwa, tetapi juga dari kualitas kesejahteraan hewan yang dipelihara.
Ia menjelaskan terdapat lima prinsip utama kesejahteraan satwa yang wajib diterapkan, yakni bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari ketidaknyamanan, bebas dari rasa sakit, cedera dan penyakit, bebas dari rasa takut dan stres, serta bebas mengekspresikan perilaku alaminya.
"Kelima prinsip itu harus diimplikasikan dengan baik. Dari situ kita bisa melihat apakah satwa benar-benar sejahtera," ujarnya.
Menurut Wisnu, satwa yang sehat dan nyaman juga menjadi bagian penting dalam edukasi kepada masyarakat.
"Kita mendidik masyarakat dan pengunjung. Kalau melihat hewan sedih atau stres, itu bukan yang ingin kita tampilkan. Yang kita harapkan adalah satwa yang happy, pengunjung juga happy, dan konservasi tercapai," katanya.
Ia menambahkan, fungsi utama lembaga konservasi juga mencakup pengembangbiakan, penyelamatan, rehabilitasi hingga pelepasliaran satwa ke habitat alaminya sebagai upaya menjaga kelestarian satwa endemik Indonesia.
"Konservasi adalah misi pelestarian. Lembaga konservasi menjadi benteng terakhir bagi satwa endemik Indonesia agar tetap lestari. Ketika populasi di alam liar sudah sangat kritis, satwa yang berlebih atau yang berhasil direhabilitasi dapat dipindahkan kembali ke habitatnya supaya tidak punah," jelasnya.***
Belum ada komentar.