- Oleh Redaksi
- 14, May 2026
SuaraGarut.id — Suasana destinasi wisata Kampung Bareto di Garut hari itu terasa berbeda. Di sela nuansa kampung tempo dulu yang identik dengan permainan tradisional, suasana budaya, dan ruang belajar terbuka sejumlah warga dan pengelola duduk melingkar, bukan untuk latihan kesenian, melainkan membahas cara membuat paket wisata yang rapi, memotret dengan sudut yang tepat, hingga menyusun caption yang menjual.
Sebanyak 25 peserta mengikuti kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan oleh Universitas Garut, bertempat langsung di lokasi destinasi. Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan duduk dan dengar, tetapi juga dibuat dengan cara yang paling praktis. Peserta diminta memetakan atraksi yang ada, menyusun rute kunjungan, dan mempraktikkan konten promosi yang bisa langsung dipakai untuk memperkenalkan Bareto ke publik.

Pak Cepi Kusuma, selaku Pengelola Kampung Bareto, menyebut pelatihan ini penting karena tantangan destinasi hari ini tidak hanya soal menjaga budaya, tetapi juga membuat orang tahu dan mau datang. “Kami punya potensi. Tapi cara menyampaikan ke orang luar, terutama yang cari info lewat HP, itu yang perlu diperkuat. Kalau kontennya kurang bagus, orang lewat begitu saja,” ujarnya.
Kegiatan PKM ini dibagi dalam tiga fokus yang langsung menyentuh kebutuhan lapangan.
Pertama, penguatan produksi wisata dibawakan oleh Stanny Dhamayanti. Di sesi ini peserta diajak mengubah potensi yang tersebar menjadi paket wisata yang jelas mulai dari susunan aktivitas, durasi, hingga pengalaman yang ditawarkan. Konsepnya sederhana, pengunjung tidak hanya datang untuk melihat-lihat saja, tetapi pulang membawa cerita, pengalaman, bahkan pengetahuan.

Kedua, pemasaran digital dipandu Dani Adiatma. Materinya dekat dengan keseharian pengelola bagaimana membuat video pendek yang enak dilihat, menyusun cerita singkat tentang Bareto, dan membangun promosi yang konsisten. Strategi ini relevan dengan pola perilaku wisatawan saat ini, karena hasil kajian pemasaran digital desa wisata di Garut menunjukkan wisatawan dominan mencari informasi lewat media sosial (±89%) dan mesin pencari (±70%), sementara konten yang paling memengaruhi keputusan berkunjung adalah video pendek, ulasan/testimoni, dan foto berkualitas.
Ketiga, peningkatan fasilitas dan layanan publik dibawakan Deden Firman Syuyaman Rukma. Sesi ini menekankan hal yang sering luput yakni destinasi bisa indah, tetapi pengalaman pengunjung bisa turun jika toilet kurang nyaman, petunjuk arah minim, atau kebersihan kurang terjaga. Aspek layanan memang sensitif, karena berbagai kajian opini publik menempatkan fasilitas, kebersihan, dan profesionalisme pengelolaan sebagai isu yang kerap disorot wisatawan.
Bagi Kampung Bareto, pelatihan ini bukan sekadar acara sehari. Tim PKM mendorong agar hasilnya dapat terealisasi dalam operasional harian. Ada pembagian peran admin konten, admin layanan/reservasi, dan admin rekap sederhana. Tujuannya agar pembenahan berjalan terus bukan berhenti ketika program selesai.
Dorongan perbaikan destinasi juga selaras dengan kebutuhan Pariwisata Garut secara lebih luas. Dalam profil kepariwisataan, rata-rata lama menginap wisatawan di Garut masih sekitar 1,05 hari, sehingga penguatan kualitas pengalaman dan layanan destinasi perlu terus didorong agar wisatawan lebih merasa betah dan mau untuk berbelanja.
Di akhir kegiatan, satu hal yang paling terasa bukan hanya pengetahuan baru, tetapi semangat baru bahwa Kampung Bareto bukan hanya tempat nostalgia, melainkan ruang hidup yang bisa terus tumbuh, dipromosikan cerdas, dan dijaga bersama.***
Penulis: Dani Adiatma, S.Par., MM.Par
Belum ada komentar.