- Oleh Redaksi
- 22, Apr 2026
SuaraGarut.id — Pemerintah Kabupaten Garut mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan seiring peralihan musim hujan ke musim kemarau pada pertengahan tahun 2026. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya mitigasi untuk menekan dampak yang dapat mengganggu sektor pertanian dan ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
Sekretaris Daerah Kabupaten Garut, Nurdin Yana, menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah melakukan berbagai persiapan, termasuk pemetaan wilayah yang rawan terdampak kekeringan. Pemetaan ini dilakukan oleh sejumlah perangkat daerah, terutama Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), dengan menginventarisasi daerah yang kerap mengalami kekeringan setiap musim kemarau.
“Pemetaan daerah rawan kekeringan sudah dilakukan, seperti teman-teman di PUPR sudah menginventarisir daerah yang seringkali terjadi kekeringan,” kata Nurdin, melansir dari Kabar Garut.
Menurutnya, perubahan musim menjadi perhatian serius karena berpotensi memicu berbagai persoalan, khususnya pada sektor pertanian dan pasokan air bersih. Kekeringan lahan serta berkurangnya sumber air menjadi ancaman utama yang perlu diantisipasi sejak dini.
“Makanya kita siapkan program, dan kegiatan yang diorientasikan untuk daerah-daerah yang seringkali terjadi kekeringan,” ujarnya.
Sejumlah wilayah di bagian utara Garut disebut sebagai kawasan paling rentan, di antaranya Kecamatan Cibatu, Limbangan, Malangbong, dan sekitarnya. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, pemerintah daerah melakukan pembangunan sumur bawah tanah serta mengoptimalkan sumber air yang sudah ada.
Selain itu, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) juga disiagakan untuk memastikan distribusi air bersih tetap berjalan, termasuk melalui pengiriman air menggunakan truk tangki ke wilayah terdampak.
Di sektor pertanian, Pemkab Garut menyiapkan program pompanisasi guna menjaga produktivitas lahan. Program ini memungkinkan petani memanfaatkan sumber air dari bawah tanah maupun sungai untuk mengairi lahan pertanian selama musim kemarau.
“Yang perlu diwaspadai bukan masalah air bersih saja, tapi juga untuk kebutuhan pertanian, makanya kita ada pompanisasi dan juga sumur,” ucap Nurdin.
Dengan berbagai langkah tersebut, Pemkab Garut berharap dampak musim kemarau dapat diminimalkan dan kebutuhan masyarakat, baik untuk konsumsi maupun pertanian, tetap terpenuhi hingga puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung sampai September 2026.
Belum ada komentar.