Beranda Ini yang Perlu Diperhatikan Biar Puasanya tidak Sia-sia

Ini yang Perlu Diperhatikan Biar Puasanya tidak Sia-sia

Oleh, Redaksi
3 jam yang lalu - waktu baca 4 menit
Ilustrasi puasa/freepik

SuaraGarut.idA — Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Fajar Rachmadani, mengingatkan umat Islam agar tidak menjalani ibadah puasa secara sia-sia.

Pesan tersebut ia sampaikan dalam ceramah Ramadan di Masjid KH Ahmad Dahlan, Ahad (21/02). Dalam tausiyahnya, ia menekankan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi merupakan proses pembentukan muttaqin bagi seorang Muslim.

Fajar membuka ceramah dengan pertanyaan reflektif: apakah ada puasa yang sia-sia? Ia menegaskan bahwa pertanyaan itu telah dijawab Rasulullah saw. melalui sejumlah hadis.

Ia mengisahkan riwayat ketika Nabi Muhammad Saw tiba-tiba mengucapkan “amin” sebanyak tiga kali tanpa mukadimah. Para sahabat pun bertanya mengenai hal tersebut. Nabi kemudian menjelaskan bahwa Malaikat Jibril datang dan menyampaikan doa keburukan bagi tiga golongan manusia, dan Nabi mengamininya.

Salah satu golongan itu adalah orang yang bertemu Ramadan tetapi tidak mendapatkan ampunan Allah. Dalam hadis tersebut disebutkan, “Celakalah seseorang yang memasuki Ramadan, lalu Ramadan berlalu sementara dosanya tidak diampuni.”

Menurut Fajar, kesempatan berjumpa Ramadan adalah anugerah yang sangat istimewa dan tidak semua orang dapat merasakannya setiap tahun.

“Dipertemukannya kita dengan Ramadan adalah privilege dari Allah. Kesempatan yang sangat istimewa,” ujarnya.

Karena itu, seseorang akan merugi jika menyia-nyiakan Ramadan dengan aktivitas yang tidak bernilai ibadah, padahal pintu amal terbuka lebar.

Puasa yang Hanya Menyisakan Lapar

Fajar juga mengutip hadis Nabi Muhammad saw.: “Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.”

Ia menjelaskan bahwa puasa menjadi sia-sia ketika hanya sebatas menahan makan dan minum tanpa perubahan sikap dan perilaku. Ia mengibaratkannya seperti mahasiswa yang mengikuti perkuliahan sepanjang semester tetapi tidak mengikuti ujian akhir—usaha ada, tetapi hasilnya nihil.

“Puasa bukan formalitas. Tujuannya membentuk dimensi moral, spiritual, dan sosial,” katanya.

Menurutnya, setiap ibadah dalam Islam memiliki dampak nyata. Salat, misalnya, dalam Al-Qur’an disebut mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Jika dampaknya belum terlihat, maka ibadah tersebut masih sebatas formalitas.

Fajar juga menyinggung makna ayat puasa dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, khususnya frasa “yaa ayyuhalladzina aamanuu”. Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak menyebut “orang-orang mukmin” yang telah sempurna imannya, melainkan siapa pun yang memiliki iman tetap diwajibkan berpuasa.

“Puasa adalah proses upgrade spiritual, dari sekadar beriman menjadi bertakwa,” jelasnya.

Indikator Puasa Berkualitas

Fajar memaparkan sejumlah indikator agar puasa tidak sia-sia.

Pertama, kemampuan menjaga lisan dan perilaku. Ia mengutip hadis Nabi yang menyatakan bahwa Allah tidak membutuhkan seseorang meninggalkan makan dan minum jika ia masih berdusta dan berperilaku buruk. Menurutnya, menjaga lisan termasuk menghindari gibah, fitnah, hinaan, hingga komentar negatif di media sosial.

“Tidak membully bukan hanya soal ucapan, tapi juga tulisan. Status media sosial pun bisa merusak nilai puasa,” tegasnya.

Ia juga mencontohkan akhlak Nabi Muhammad yang mampu meluluhkan hati seorang pendeta Yahudi bernama Zaid bin Sa’nah hingga akhirnya memeluk Islam, setelah menyaksikan kesabaran Nabi saat diperlakukan kasar. Kisah itu menunjukkan bahwa pengendalian emosi dan akhlak mulia dapat menjadi jalan hidayah.

Kedua, tumbuhnya keikhlasan. Menurut Fajar, puasa merupakan ibadah yang paling tersembunyi karena tidak tampak secara kasat mata. Berbeda dengan salat, haji, atau sedekah yang dapat terlihat publik, puasa melatih manusia untuk beramal tanpa mencari pengakuan.

“Puasa mengajarkan kita cukup mencari penilaian Allah, bukan manusia,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa kebutuhan terhadap pujian sering menjadi sumber kekecewaan. Puasa mendidik seseorang agar tetap istiqamah meski tanpa apresiasi.

Menjelang akhir ceramah, Fajar menegaskan bahwa kualitas puasa semestinya melahirkan perubahan nyata setelah Ramadan. Indikatornya antara lain integritas spiritual, perbaikan moral, peningkatan kualitas ibadah, kepedulian sosial, serta transformasi perilaku pasca-Ramadan.

Ia juga menepis anggapan sebagian orang yang merasa belum layak beribadah karena masih banyak dosa. Justru, kata dia, ibadah menjadi sarana memperbaiki diri.

“Jangan menunggu jadi saleh dulu baru beribadah. Ibadah itulah yang membuat kita menjadi lebih baik,” ujarnya.

Mengutip sabda Nabi, ia menegaskan bahwa Allah menerima taubat hamba selama belum mencapai sakaratul maut. Karena itu, setiap kebaikan, sekecil apa pun, dapat menghapus kesalahan sebelumnya.

Menutup ceramahnya, Fajar mengajak jamaah memanfaatkan Ramadan sebagai momentum perubahan hidup.

“Selama Allah masih memberi kita napas dan kesempatan bertemu Ramadan, pintu perbaikan diri selalu terbuka,” pungkasnya.

Sumber Muhammadiyah 

Rekomendasi

0 Komentar

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.