- Oleh Redaksi
- 11, Apr 2026
SuaraGarut.id - Situasi di Selat Hormuz kembali memanas setelah Iran mengumumkan penutupan jalur pelayaran tersebut, tidak lama setelah sebelumnya dibuka untuk aktivitas komersial. Keputusan ini diambil menyusul meningkatnya ketegangan di kawasan, termasuk insiden penembakan terhadap kapal tanker.
Mengutip laporan CNBC, Sabtu (18/4/2026), Iran menyatakan langkah tersebut dilakukan karena Amerika Serikat dinilai tidak memenuhi kewajiban dalam kesepakatan yang telah disepakati.
Laporan dari UK Maritime Trade Operations menyebutkan adanya serangan terhadap kapal tanker yang melintas di perairan tersebut. Kapal tersebut ditembak oleh dua kapal cepat milik Korps Garda Revolusi Islam, meski dilaporkan tidak ada korban jiwa dan kondisi awak kapal tetap aman.
Sebelumnya, Iran sempat membuka Selat Hormuz untuk pelayaran terbatas dalam masa gencatan senjata yang melibatkan Israel dan Lebanon. Namun, kebijakan tersebut tidak berlangsung lama karena muncul ketidakjelasan teknis terkait aturan pelayaran.
Melalui siaran resmi Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), pemerintah Iran menegaskan kembali penutupan jalur tersebut.
“Amerika Serikat tidak memenuhi kewajibannya. Maka Selat Hormuz kini kembali ditutup dan setiap pelintasan harus mendapat persetujuan Iran,” demikian dalam pernyataan IRIB.
Juru bicara IRGC, Ebrahim Zolfaghari, menyatakan bahwa pengawasan penuh atas Selat Hormuz kini berada di bawah kendali militer Iran.
“Kendali atas Selat Hormuz telah kembali ke kondisi sebelumnya ... di bawah pengelolaan dan kontrol ketat angkatan bersenjata,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pembatasan akan terus diberlakukan selama Amerika Serikat masih menjalankan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut komunikasi dengan Iran masih berlangsung meski situasi memanas.
"Kami sedang melakukan pembicaraan yang sangat baik," ujar Trump.
Namun, ia juga mengkritik langkah Iran yang dinilai berlebihan serta menegaskan sikap tegas Washington terhadap upaya penutupan jalur strategis tersebut.
"Mereka tidak bisa memeras kami," katanya.
Trump juga mengindikasikan kemungkinan tidak memperpanjang gencatan senjata dan membuka opsi langkah militer jika situasi tidak membaik.***
Belum ada komentar.