- Oleh Redaksi
- 03, May 2026
SuaraGarut.id - Menjelang musim kemarau 2026, Dinas Pertanian Kabupaten Garut mulai melakukan pemetaan wilayah pertanian yang berpotensi mengalami kekeringan. Langkah ini dilakukan untuk memudahkan penanganan sekaligus mengurangi dampak terhadap hasil produksi pertanian, terutama tanaman padi.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Ardhy Firdian, mengatakan pihaknya telah memiliki data wilayah rawan kekeringan, meski saat ini pemetaannya masih bersifat umum hingga tingkat kecamatan.
“Kita sudah punya peta potensi rawan kekeringan, namun datanya belum terlalu detail, baru disampaikan di tingkat kecamatan, dan sampai saat ini laporan sementara sudah ada laporan yang terancam,” kata Ardhy, mengutip dari Kabar Garut
Ia menjelaskan, pihaknya telah menginstruksikan jajaran petugas pertanian di lapangan untuk memantau daerah yang kerap mengalami kekeringan ketika musim kemarau datang.
Berdasarkan laporan sementara, sejumlah lahan pertanian di wilayah selatan Garut mulai terdampak akibat berkurangnya pasokan air dari sungai serta minimnya curah hujan. Beberapa kecamatan yang dilaporkan mulai terancam di antaranya Cibalong, Cikelet, dan Mekarmukti.
“Kemarin laporan terancam kekeringan itu ada di daerah selatan seperti di Cibalong, Cikelet, dan Mekarmukti,” ujarnya.
Ardhy menyebutkan, luas lahan yang sempat dilaporkan terancam kekeringan mencapai sekitar 300 hektare. Mayoritas merupakan sawah padi yang sudah memasuki usia tanam lebih dari dua bulan atau mendekati masa panen.
Namun kondisi tersebut sementara dapat tertolong karena hujan masih turun pada awal Mei 2026 sehingga kebutuhan air tanaman tetap terpenuhi.
“Untungnya kemarin itu ada turun hujan, jadi yang tadinya sudah mulai kering, kini terbantu dengan adanya hujan, dan tidak lagi terancam kekeringan,” ucapnya.
Selain wilayah selatan, kawasan lain seperti Cibatu dan sejumlah daerah di wilayah utara Garut juga masuk kategori rawan kekeringan berdasarkan pemetaan sebelumnya.
Menurut Ardhy, musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih lama dibandingkan tahun sebelumnya dengan puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026.
“Informasinya musim kemarau tahun ini akan lebih panjang, dengan puncak kemarau diperkirakan di bulan Agustus,” tutur Ardhy.
Sebagai langkah antisipasi, Dispertan Garut telah menyiapkan sejumlah upaya seperti pompanisasi, pemanfaatan sumur air, hingga optimalisasi jaringan irigasi di wilayah pertanian yang rawan kekurangan air.
Ia berharap musim kemarau tahun ini tidak berlangsung ekstrem sehingga tidak menyebabkan kerugian besar bagi para petani di Kabupaten Garut.***
Belum ada komentar.