- Oleh Redaksi
- 12, Jun 2026
SuaraGarut.id – Pemerintah memastikan program biodiesel B50 akan mulai diterapkan secara nasional pada 1 Juli 2026. Menjelang pelaksanaannya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih melakukan serangkaian evaluasi akhir untuk memastikan seluruh aspek teknis berjalan sesuai rencana.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pihaknya akan menggelar rapat bersama tim uji coba dalam waktu dekat guna membahas hasil pengujian yang hingga saat ini masih berlangsung.
“B50 sesuai dengan jadwal akan diimplementasikan pada 1 Juli 2026. Mungkin satu minggu lagi saya akan melakukan rapat dengan tim uji coba. Sekarang kan kita masih terus melakukan uji coba,” kata Bahlil, dikutip dari laman resmi Rabu (17/6/2026).
Menurut Bahlil, hasil sementara menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Sebagian besar indikator pengujian telah memberikan hasil positif, termasuk dari sisi kualitas bahan bakar.
“Sekarang kan kita uji coba terus semuanya. Sekitar 80-90 persen hasil uji coba, alhamdulillah baik. Bahkan kadar airnya dibandingkan dengan B40 itu lebih baik di B50. Namun, hasil akhirnya akan kami sampaikan setelah rapat evaluasi final,” ujarnya.
Pemerintah menilai kualitas biodiesel B50 memiliki performa yang lebih baik dibandingkan B40 yang saat ini digunakan. Meski demikian, hasil resmi tetap akan diumumkan setelah seluruh proses evaluasi selesai dilakukan.
“Hasil akhirnya akan kami sampaikan pada saat setelah rapat evaluasi final,” kata Bahlil.
Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyebut penerapan B50 merupakan langkah strategis dalam memperkuat kemandirian energi nasional melalui pemanfaatan sumber daya dalam negeri.
“Dengan memanfaatkan sumber daya domestik, kita tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional,” ujar Eniya.
Selain meningkatkan ketahanan energi, program B50 juga diproyeksikan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memperkirakan penggunaan B50 dapat menghemat konsumsi BBM fosil hingga 4 juta kiloliter atau setara Rp48 triliun.
Biodiesel sendiri merupakan bahan bakar terbarukan yang diproduksi dari minyak nabati, seperti minyak kelapa sawit dan minyak jarak pagar. Program ini telah dijalankan Indonesia sejak 2006 dan terus berkembang melalui berbagai tahapan campuran, mulai dari B5, B10, B20, B30, hingga B40.
Saat ini, B40 yang mulai diterapkan pada awal 2025 terdiri dari campuran 60 persen solar dan 40 persen minyak kelapa sawit. Pemerintah sebelumnya menargetkan B50 berlaku pada 2027, namun target tersebut dipercepat menjadi 1 Juli 2026 sebagai bagian dari strategi menghadapi dinamika harga energi global.
Pemerintah juga mencatat implementasi program biodiesel sebelumnya memberikan manfaat ekonomi yang signifikan. Hingga September tahun lalu, program biodiesel disebut berhasil menghemat devisa negara hingga Rp93,43 triliun.
Dengan berbagai hasil positif yang telah dicapai, penerapan B50 diharapkan menjadi tonggak baru dalam upaya memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah sektor energi berbasis sumber daya domestik.***
Belum ada komentar.