Beranda Perempuan Garut Didorong Lebih Berdaya, Pernikahan Dini Jadi Sorotan di Peringatan Hari Ibu ke-97

Perempuan Garut Didorong Lebih Berdaya, Pernikahan Dini Jadi Sorotan di Peringatan Hari Ibu ke-97

Oleh, Redaksi
3 jam yang lalu - waktu baca 5 menit
Foto bersama Resepsi Peringatan Hari Ibu (PHI) ke-97 Tingkat Kabupaten Garut yang digelar di Gedung Lasminingrat, Jalan Ahmad Yani/IST

SuaraGarut.id – Wakil Bupati Garut Putri Karlina menghadiri Resepsi Peringatan Hari Ibu (PHI) ke-97 Tingkat Kabupaten Garut yang digelar di Gedung Lasminingrat, Jalan Ahmad Yani, Jumat (16/1/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum penguatan peran perempuan sekaligus ajakan bersama untuk menekan praktik pernikahan usia dini.

Dalam sambutannya, Putri Karlina menekankan pentingnya peran organisasi perempuan dalam mengedukasi masyarakat terkait isu-isu krusial, khususnya kesehatan perempuan dan dampak sosial pernikahan di bawah umur. Ia mengapresiasi Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Garut yang dinilainya konsisten berkontribusi bagi kemajuan perempuan.

Sebagai bentuk dukungan nyata, resepsi PHI ke-97 juga diisi dengan berbagai layanan kesehatan, di antaranya pemeriksaan kesehatan wanita dan pemeriksaan kulit secara gratis bagi peserta yang hadir.

Foto bersama Resepsi Peringatan Hari Ibu (PHI) ke-97 Tingkat Kabupaten Garut yang digelar di Gedung Lasminingrat, Jalan Ahmad Yani/ISTPerbesar +

Putri Karlina juga menyoroti kondisi sosial di wilayah pelosok Garut yang masih menghadapi persoalan pernikahan dini. Menurutnya, praktik tersebut kerap dianggap sebagai solusi, padahal justru berpotensi menimbulkan persoalan baru di kemudian hari.

"Ya makanya itu, jadi itu menjadi sebuah penanda bahwa kita ini yang istilahnya yang punya pendidikan yang lebih harus bisa memberdayai dan membersamai teman-teman yang mungkin masih ada kendala masalah sosial," ungkapnya.

Ia mengajak generasi muda, khususnya perempuan, untuk terus mengejar pendidikan dan pengalaman terbaik demi masa depan yang lebih baik. Selain itu, Putri Karlina juga mengingatkan para orang tua agar lebih memperhatikan pola asuh serta kesehatan reproduksi, termasuk pentingnya pemeriksaan kehamilan secara rutin dan pengaturan jarak kelahiran sesuai program pemerintah.

"Terus para ibu, tolong pertama menikahi anak di bawah umur itu bukan solusi, terus yang mau jadi ibu juga harus mulai gimana sih hamil yang sehat, harus rutin ke puskesmas dan jarak antar anak itu berapa intinyamah semua program pemerintah itu udah sesuai takarannya jadi tolong diikuti," ujar Putri Karlina.

Selain kegiatan seremonial, GOW Kabupaten Garut turut menunjukkan kepedulian sosial dengan menyalurkan bantuan bagi korban bencana banjir bandang di Sumatera dan Aceh, khususnya di wilayah Aceh Tamiang dan Aceh Tengah.

Kepala Dinas DPPKBPPPA Kabupaten Garut Yayan Waryana menjelaskan bahwa program Stop Kabur atau Stop Kawin di Bawah Umur merupakan strategi terpadu untuk menekan angka perkawinan anak melalui sinergi lintas sektor.

“Stop kabur itu adalah sebuah strategi terpadu untuk mengoptimalkan pencegahan kawin anak di bawah umur. Jadi karena terpadu, berarti bersinergi dan berkolaborasi dengan beberapa instansi baik vertikal maupun yang ada di sekitar entitas SKPD di Kabupaten Garut,” kata Yayan.

Ia menyebutkan kerja sama dilakukan dengan Kementerian Agama, Pengadilan Agama, serta berbagai perangkat daerah seperti Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan Dinas Pemuda dan Olahraga.

“Nah, bagaimana agar usia perkawinan tersebut sehat dan ideal, begitu. Harus terpenuhi kebutuhan-kebutuhan yang nanti harus dilakukan oleh suami istri gitu ya. Sehatnya, mentalnya, sosialnya, modalnya, seperti itu,” jelasnya.

Yayan mengungkapkan, perkawinan di bawah umur memiliki sejumlah dampak serius, salah satunya meningkatnya angka perceraian di Kabupaten Garut yang kini berada di kisaran lebih dari 6.000 kasus.

“Pertama, kawin di bawah umur itu akan berakibat terhadap disharmonisasi dan berujung perceraian. Kabupaten Garut sekarang sudah hampir di angka 6.000-an ya angka perceraian,” ungkapnya.

Selain itu, perkawinan usia dini juga berpotensi meningkatkan jumlah anak, memicu risiko stunting, serta menyebabkan kematian ibu dan bayi.

“Ketiga, kawin di bawah umur itu akan mengakibatkan kelahiran anaknya beresiko stunting… Keempat, mengakibatkan kematian ibu dan kematian bayi,” katanya.

Ia menambahkan, hingga saat ini Kabupaten Garut masih menempati peringkat ketiga tertinggi di Jawa Barat dalam angka kematian ibu dan bayi.

“Nah untuk itu, maka stop kabur, stop kawin di bawah umur kita akan terus lakukan ke berbagai daerah, tingkatan, dan tahapan,” tegas Yayan.

Program Stop Kabur, lanjutnya, telah disosialisasikan secara masif ke sekolah, perguruan tinggi, pesantren, serta ke tingkat kecamatan dan desa dengan melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda.

“Jadi saya tidak nengken ke orang, saya sendiri langsung turun menjadi narasumber,” pungkasnya.

Melalui peringatan Hari Ibu ke-97 ini, Pemerintah Kabupaten Garut berharap peran perempuan semakin kuat dalam membangun keluarga yang sehat, berdaya, serta terbebas dari praktik perkawinan anak.

Ketua GOW Kabupaten Garut Diana Ratna Inten menyampaikan bahwa pihaknya telah menghimpun donasi untuk mendukung pemulihan di daerah terdampak bencana. Bantuan tersebut diarahkan pada kebutuhan mendesak sekaligus pemulihan jangka panjang.

Bantuan yang disalurkan meliputi sembako siap konsumsi, penyediaan sarana sekolah dan tempat ibadah, pembangunan Dapur Mandiri bagi kelompok rumah tangga, pengeboran sumur air bersih di titik krisis, hingga pembangunan jembatan darurat.

"Dukungan dari pemerintah daerah dan sinergi lintas sektor adalah kekuatan besar yang membuat Peringatan Hari Ibu ke-97 ini bermakna. Semoga kebersamaan ini terus kita jaga agar perempuan Garut semakin berdaya, berkarya dan menginspirasi serta menjadi bagian penting dalam mewujudkan generasi emas," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Hari Ibu ke-97 Kabupaten Garut Rita Sulastri Anwar memaparkan seluruh rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan sejak 12 Desember 2025. Kegiatan tersebut meliputi bakti sosial di Griya Lansia, ziarah ke Makam R.A. Lasminingrat, penanaman pohon di Perkebunan Teh PTP Nusantara I Dayeuhmanggung, bazar bina usaha kultur kreatif, lomba esai, upacara peringatan Hari Ibu, hingga resepsi puncak pada hari ini.

"Pada kegiatan hari ini akan dilaksanakan juga pemberian penghargaan kepada 10 tokoh wanita inspiratif Kabupaten Garut termasuk Ibu Prof. Ummu, beliau adalah sosok yang melahirkan pemimpin Kabupaten Garut, Bapak Bupati, beliau menjadi tauladan bahwa doa, pendidikan dan ketulusan seorang ibu mampu melahirkan generasi pemimpin bangsa," ungkapnya.

Resepsi PHI ke-97 juga dimeriahkan dengan bazar UMKM anggota GOW serta sejumlah seminar edukatif. Kegiatan tersebut antara lain Seminar Kecantikan oleh Laure Aesthetic Clinic yang mengangkat tema perawatan diri dan kepercayaan diri, serta Seminar Kesehatan yang berfokus pada deteksi dini kanker serviks melalui IVA Test, skrining kesehatan, dan pemeriksaan umum oleh Klinik Pratama Sonny Medical Bandung.

Rekomendasi

0 Komentar

Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.