Selat Hormuz Kembali Ditutup, Gencatan Senjata AS–Iran Terancam Runtuh


[Ilustrasi Selat Hormuz/Gemini AI]

SuaraGarut.id - Gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran terancam batal kurang dari 24 jam setelah diumumkan. Situasi memanas setelah Teheran kembali menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan besar yang dilakukan Israel di wilayah Lebanon.

Persoalan utama dipicu oleh perbedaan tafsir mengenai cakupan wilayah gencatan senjata. Iran bersama Pakistan sebagai mediator menilai kesepakatan tersebut mencakup Lebanon, namun hal itu dibantah oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Mengutip laporan The Guardian, Israel disebut melancarkan serangan besar ke lebih dari 100 target di Lebanon yang menewaskan sedikitnya 254 orang. Sementara itu, Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa konflik di Beirut merupakan “pertempuran terpisah” yang tidak termasuk dalam kesepakatan.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai langkah Israel dan AS telah melanggar sejumlah klausul gencatan senjata, termasuk aksi militer yang terus berlanjut serta tuntutan terhadap program nuklir Iran.

"Dalam situasi seperti ini, gencatan senjata bilateral atau negosiasi adalah tidak masuk akal," kata Ghalibaf sebagaimana dikutip dalam laporan tersebut.

Ketegangan semakin meningkat setelah kantor berita Fars melaporkan bahwa kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz dihentikan akibat dugaan pelanggaran kesepakatan. Bahkan, penjaga pantai Iran memperingatkan kapal yang melintas tanpa izin akan “ditarget dan dihancurkan”.

Di sisi lain, Gedung Putih membantah laporan tersebut dan menyebut Selat Hormuz diharapkan tetap terbuka untuk jalur pelayaran internasional.

Perbedaan interpretasi juga terjadi terkait proposal dasar gencatan senjata. Trump sebelumnya menyebut proposal 10 poin dari Iran sebagai dasar negosiasi, namun kemudian pihak Gedung Putih melalui juru bicara Karoline Leavitt menyatakan proposal tersebut tidak dapat diterima. Trump pun menyebut kesepakatan mengacu pada proposal 15 poin dari AS.

Di tengah ketidakpastian tersebut, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan menurun drastis. Hanya lima kapal yang melintas pada Rabu, jauh dari jumlah normal yang mencapai ratusan kapal per hari.

Situasi diperparah dengan laporan bahwa Iran mengenakan biaya hingga 2 juta dolar AS per kapal untuk melintas, serta rencana berbagi pendapatan dengan Oman sebagai pengelola bersama.

Sementara itu, Uni Emirat Arab dilaporkan berhasil mencegat 17 rudal balistik dan 35 drone yang diduga diluncurkan Iran pasca pengumuman gencatan senjata. Serangan juga disebut menyasar infrastruktur minyak Arab Saudi.

Upaya diplomasi dijadwalkan berlanjut melalui perundingan di Islamabad, Pakistan. Delegasi AS direncanakan dipimpin Wakil Presiden JD Vance bersama utusan lainnya, sementara Iran akan diwakili Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi. Namun, kehadiran pihak AS masih belum dikonfirmasi secara resmi.

Panglima Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, menegaskan kesiapan militer negaranya jika konflik kembali meningkat.

"Gencatan senjata adalah jeda, dan pasukan gabungan tetap siap jika diperintahkan," katanya.

  • -

0 Komentar :

    Belum ada komentar.

Mungkin anda suka