- Oleh Redaksi
- 23, Jun 2026
SuaraGarut.id – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah militer Amerika melancarkan serangan udara ke sejumlah target militer Iran atas perintah Presiden Donald Trump pada Sabtu (27/6/2026) waktu setempat. Operasi tersebut disebut sebagai respons atas serangan drone Iran terhadap kapal tanker minyak di Selat Hormuz yang dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata sementara.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan udara menyasar berbagai fasilitas militer Iran, mulai dari infrastruktur pengawasan, sistem komunikasi, pertahanan udara, gudang penyimpanan drone, hingga fasilitas yang berkaitan dengan kemampuan penebaran ranjau laut.
Menurut CENTCOM, langkah militer tersebut diambil setelah pasukan Iran menyerang kapal tanker Kiku menggunakan drone bunuh diri pada Sabtu pagi.
Kapal tanker Kiku diketahui sedang mengangkut lebih dari dua juta barel minyak mentah saat melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi paling strategis di dunia. Berdasarkan data pelacakan pelayaran, kapal itu berangkat dari ladang minyak Qatar di Teluk Persia menuju pelabuhan di Uni Emirat Arab melalui jalur alternatif di dekat pantai Oman.
Dalam keterangannya, CENTCOM menegaskan bahwa Iran telah mengabaikan kesempatan untuk mempertahankan kesepakatan gencatan senjata sementara.
"Iran memiliki kesempatan untuk menghormati perjanjian gencatan senjata, tetapi memilih untuk tidak melakukannya," demikian pernyataan militer AS.
Tak lama setelah serangan balasan dilakukan, media pemerintah Iran melaporkan adanya ledakan di kawasan utara Selat Hormuz. Namun hingga kini belum ada rincian mengenai lokasi maupun tingkat kerusakan akibat serangan tersebut.
Situasi keamanan juga meningkat di Bahrain, yang menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat. Kementerian Luar Negeri Bahrain mengungkapkan sejumlah drone Iran sempat mengarah ke wilayah negaranya dan dinilai sebagai ancaman serius terhadap keamanan nasional. Meski demikian, belum ada laporan mengenai korban jiwa ataupun kerusakan.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melalui kantor berita IRNA mengklaim telah menyerang sejumlah lokasi milik "tentara teroris Amerika" di kawasan Timur Tengah. Namun, Iran tidak mengungkapkan secara rinci lokasi yang menjadi sasaran serangan tersebut.
Sebagai respons, militer Amerika Serikat menyatakan telah menghancurkan sejumlah lokasi peluncuran rudal, fasilitas drone, dan radar pantai milik Iran dalam operasi udara yang dilakukan semalam.
Meningkatnya eskalasi konflik ini memunculkan kekhawatiran terhadap kelanjutan proses negosiasi damai antara Washington dan Teheran. Sebelumnya kedua negara telah menyepakati gencatan senjata sementara dengan masa negosiasi selama 60 hari untuk membahas isu keamanan pelayaran di Selat Hormuz, program nuklir Iran, hingga stok uranium yang diperkaya.
Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance yang memimpin proses negosiasi mengingatkan bahwa Iran seharusnya menempuh jalur diplomasi apabila memiliki keberatan terhadap isi kesepakatan. Menurutnya, setiap tindakan kekerasan akan memperoleh respons yang setimpal dari Amerika Serikat.
Di tengah situasi yang terus memanas, Pusat Informasi Maritim Gabungan di bawah pengawasan Angkatan Laut AS memperluas jalur pelayaran di dekat pantai Oman agar kapal-kapal dapat melintas dua arah dengan lebih aman. Langkah itu diperkirakan memicu ketegangan baru setelah Iran kembali menegaskan klaim pengaruhnya atas Selat Hormuz.
Sementara itu, Organisasi Maritim Internasional (IMO) menghentikan sementara operasi evakuasi kapal hingga kondisi keamanan membaik. Meski demikian, sekitar 115 kapal dilaporkan telah berhasil keluar dari Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir.***
Sumber PBS
Belum ada komentar.