- Oleh Redaksi
- 30, Apr 2026
SuaraGarut.id – Pemerintah Kabupaten Garut melalui Dinas Pertanian mulai melakukan langkah antisipasi menghadapi ancaman musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino yang diprediksi lebih ekstrem dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Ardhy Firdian, mengatakan bahwa fenomena yang disebut sebagai “Godzilla El Nino” diperkirakan akan memicu musim kemarau lebih panjang dengan puncaknya terjadi pada Agustus 2023.
"... seluruh Indonesia akan mengalami disebutnya istilah Godzilla El Nino. Jadi kemarau yang lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya. Di mana pada tahun ini itu puncak kemarau itu diperkirakan akan terjadi pada bulan Agustus 2023," ujar Ardhy.
Menghadapi kondisi tersebut, Dinas Pertanian Garut telah menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga ketahanan sektor pertanian, khususnya tanaman padi yang berpotensi terdampak kekeringan.
Salah satu langkah yang dilakukan yakni menyiapkan 95 unit pompa brigade yang ditempatkan di berbagai kecamatan. Pompa tersebut disiapkan untuk membantu suplai air ke lahan sawah yang mulai mengalami kekeringan.
"Dari kita, dari Dinas Pertanian, itu sudah melakukan beberapa langkah antisipasi untuk pengamanan standing crop, khususnya untuk tanaman padi. Salah satu di antaranya yaitu kita sudah menyiapkan pompa, pompa-pompa brigade yang kita tempatkan di setiap kecamatan sebanyak 95 unit," katanya.
Menurut Ardhy, pompa tersebut dapat digunakan sewaktu-waktu apabila ditemukan gejala kekeringan di lahan pertanian. Selain penanganan jangka pendek, pihaknya juga menyiapkan solusi jangka panjang melalui pembangunan sistem irigasi perpompaan di sejumlah wilayah.
"Nah, itu bisa digunakan sewaktu-waktu apabila ada lahan-lahan pertanian atau lahan sawah yang mengalami gejala kekeringan," lanjutnya.
Ia berharap dampak El Nino di Kabupaten Garut tidak berlangsung terlalu berat sehingga kondisi pertanaman padi tetap aman dan produktivitas pertanian dapat terjaga.
Berdasarkan pemetaan Dinas Pertanian, beberapa wilayah di Kabupaten Garut memang rutin mengalami kekeringan saat musim kemarau. Kecamatan Cibatu menjadi salah satu daerah yang dinilai rawan, selain beberapa titik di wilayah Garut selatan.
"Ada beberapa titik kemarin yang kita identifikasi dan setiap tahun memang itu terjadi kekeringan, di antaranya yaitu Kecamatan Cibatu, kemudian ada juga beberapa titik itu di wilayah selatan," ungkap Ardhy.
Terkait sumber air, Dinas Pertanian lebih merekomendasikan pemanfaatan air permukaan seperti sungai dan situ untuk kebutuhan irigasi, selama tidak digunakan sebagai sumber konsumsi rumah tangga.
Sementara itu, Ardhy juga memaparkan kondisi terkini luas lahan sawah di Kabupaten Garut yang kini tercatat sekitar 46.725 hektare setelah dilakukan penyesuaian data akibat alih fungsi lahan.
"Total kalau untuk lahan sawah itu 46.725 hektar setelah ada alih fungsi lahan itu, Pak ya," jelasnya.
Ia menyebut sebelumnya luas lahan sawah di Garut sempat berada di angka lebih dari 47 ribu hektare. Namun setelah dilakukan proses verifikasi dan pembersihan data, angka tersebut mengalami penyesuaian.
Fenomena alih fungsi lahan sendiri paling banyak terjadi di kawasan perkotaan, termasuk wilayah Tarogong yang saat ini berkembang menjadi kawasan permukiman dan perumahan.
"Perkotaan. Termasuk Tarogong juga, Pak ya, karena memang itu kan peruntukan wilayahnya memang untuk peruntukan kawasan perumahan, ya," pungkasnya.***
Belum ada komentar.