- Oleh Redaksi
- 10, Mar 2026
Bos QatarEnergy Klaim Sudah Beri Peringatan Rutin Sebelum Serangan Hancurkan Fasilitas LNG
KOMPAS.com – CEO QatarEnergy, Saad al-Kaabi, mengungkapkan bahwa dirinya telah berulang kali memperingatkan pejabat Amerika Serikat (AS) dan pelaku industri energi global terkait risiko serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk.
Peringatan tersebut disampaikan jauh sebelum kompleks industri energi Ras Laffan di Qatar terdampak serangan balasan dari Iran di tengah eskalasi konflik kawasan.
Al-Kaabi, yang juga menjabat sebagai Menteri Energi Qatar, mengatakan dirinya terus berkomunikasi dengan pejabat AS serta mitra industri untuk menekankan pentingnya pengendalian diri demi menjaga fasilitas vital minyak dan gas.
Dalam wawancaranya, ia menegaskan bahwa peringatan itu telah disampaikan secara konsisten.
"Mereka sadar akan ancaman itu. Saya selalu mengingatkan mereka, hampir setiap hari, bahwa kita perlu memastikan adanya pengendalian diri terkait fasilitas minyak dan gas," ujar al-Kaabi.
Konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026 memicu serangkaian serangan terhadap kapal tanker dan fasilitas energi. Ketegangan memuncak setelah serangan terhadap ladang gas South Pars di Iran yang kemudian dibalas dengan serangan ke sejumlah infrastruktur energi di kawasan, termasuk di Qatar.
Serangan tersebut berdampak besar terhadap fasilitas LNG di Ras Laffan, yang merupakan salah satu pusat produksi gas alam cair terbesar di dunia. Kerusakan parah terjadi pada komponen utama seperti cold boxes, yang berfungsi untuk memurnikan dan mendinginkan gas sebelum diekspor.
Akibatnya, sekitar 17 persen kapasitas ekspor LNG Qatar lumpuh. Gangguan ini diperkirakan berdampak panjang terhadap pasokan energi global, khususnya ke pasar Eropa dan Asia.
Al-Kaabi memprediksi distribusi LNG bisa terganggu hingga lima tahun ke depan. Bahkan untuk memulai kembali operasional secara penuh, dibutuhkan waktu beberapa bulan setelah kondisi memungkinkan.
Selain itu, proyek ekspansi besar North Field yang sebelumnya ditargetkan meningkatkan kapasitas produksi secara signifikan juga terpaksa dihentikan sementara, dengan potensi penundaan hingga lebih dari satu tahun.
Sumber Kompas.com
Belum ada komentar.