- Oleh Redaksi
- 05, May 2026
SuaraGarut.id - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memastikan hingga saat ini belum ditemukan bukti penularan hantavirus antar manusia di Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan menyusul perhatian internasional terhadap kasus hantavirus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni menjelaskan bahwa kasus di kapal pesiar MV Hondius merupakan tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yang berbeda dengan jenis hantavirus yang selama ini ditemukan di Indonesia.
“HPS banyak ditemukan di Amerika Selatan dan belum pernah dilaporkan di Indonesia, baik pada manusia maupun tikus. Sementara itu, kasus hantavirus di Indonesia merupakan tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang telah ditemukan sejak 1991 dengan strain Seoul virus,” katanya melansir dari pikiran-rakyat.com.
Menurut Andi, perbedaan jenis virus tersebut penting dipahami karena berkaitan dengan pola penularan dan tingkat risiko penyakit. HPS diketahui memiliki fatalitas tinggi dan dapat menyerang sistem pernapasan secara cepat.
Ia menambahkan, kasus di kapal pesiar MV Hondius disebabkan oleh strain Andes virus yang dalam sejumlah penelitian memiliki kemungkinan penularan antar manusia melalui kontak erat dan berkepanjangan. Namun kondisi tersebut berbeda dengan tipe HFRS yang ditemukan di Asia, termasuk Indonesia.
“Ia menegaskan HPS di kapal pesiar MV Hondius disebabkan strain Andes virus yang dalam penelitian tertentu dapat menular antar-manusia melalui kontak erat dan berkepanjangan, namun, untuk tipe HFRS yang ada di Asia dan Indonesia, hingga kini belum ada bukti penularan antar-manusia.”
Kemenkes juga mengingatkan masyarakat mengenai faktor risiko penularan hantavirus yang umumnya berasal dari kontak dengan tikus atau celurut, baik melalui gigitan maupun paparan urin, feses, dan debu yang terkontaminasi.
Kelompok yang dinilai memiliki risiko tinggi antara lain petugas kebersihan, pengelola sampah, petani, pekerja bangunan lama, masyarakat di daerah banjir, hingga individu yang sering melakukan aktivitas luar ruangan seperti berkemah.
“Kelompok berisiko meliputi petugas sampah, petani, pekerja di bangunan lama, daerah banjir, hingga aktivitas luar ruang seperti berkemah. Secara global, kasus hantavirus tersebar di Eropa, Amerika, dan Asia. Untuk Indonesia, sejak 2024 hingga 2026 tercatat 23 kasus HFRS, tanpa temuan HPS,” katanya.
Berdasarkan penelitian Riset Khusus Vektor dan Reservoir Penyakit (Rikhus Vektora), virus hanta sebelumnya ditemukan pada tikus dan celurut di 29 provinsi di Indonesia. Meski demikian, belum ada indikasi penularan antar manusia di dalam negeri.
Terkait kasus di kapal pesiar MV Hondius berbendera Belanda, otoritas kesehatan Inggris melaporkan adanya klaster Severe Acute Respiratory Illness (SARI) pada 2 Mei 2026. Hingga 10 Mei 2026, tercatat delapan kasus yang terdiri atas enam kasus konfirmasi dan dua probable, dengan tiga pasien dilaporkan meninggal dunia.
Kemenkes juga mengonfirmasi tidak ada warga negara Indonesia di kapal tersebut. Namun, Indonesia menerima notifikasi terkait seorang warga negara asing yang tinggal di Jakarta Pusat dan diketahui menjadi kontak erat dalam satu penerbangan dengan salah satu pasien yang meninggal dunia.
Hasil pemeriksaan PCR terhadap WNA berinisial KE (60) menunjukkan hasil negatif. Meski demikian, pemantauan kesehatan masih terus dilakukan di RSPI Sulianti Saroso sebagai langkah antisipasi lebih lanjut.***
Sumber pikiran-rakyat.com
Belum ada komentar.