Logo HJG Garut 2026 Disorot Publik, Pemkab Tegaskan AI Hanya Alat Bantu Desain
SuaraGarut.id – Menjelang peringatan Hari Jadi Garut (HJG) ke-213 tahun 2026, perhatian publik justru tertuju pada logo resmi yang dirilis Pemerintah Kabupaten Garut. Logo tersebut ramai diperbincangkan di media sosial setelah dinilai warganet diduga merupakan hasil kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), hingga memicu gelombang kritik dan olok-olok.
Logo HJG ke-213 menjadi viral usai diunggah akun Instagram @mantapfunny, disertai narasi bernada satire, "Ramalan ngatmin: setahun kedepan makin banyak logo AI." Unggahan tersebut dengan cepat menyedot perhatian pengguna media sosial dan memantik beragam komentar pedas.
Sebagian netizen menilai tampilan visual logo terlihat kurang matang secara artistik dan mencerminkan proses desain yang instan. Kritik bahkan berkembang menjadi candaan, menyasar minimnya kreativitas yang dinilai tidak merepresentasikan nilai historis Hari Jadi Garut.
Beberapa komentar warganet menyoroti dugaan penggunaan AI secara dominan. Akun @rifqialbaihaqii menulis, "Kaciri pisan AI na (Kelihatan banget AI-nya)," sementara akun @muhammadfan17 mempertanyakan transparansi anggaran dengan komentar, "Brp yg dianggarkan?"
Menanggapi polemik tersebut, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Garut, Beni Yoga Gunasantika, memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi dalam proses kreatif merupakan hal yang wajar di era digital saat ini.
Menurut Beni, AI tidak menggantikan peran seniman, melainkan hanya digunakan sebagai alat bantu dalam proses desain. “Seniman ini yang melakukan, teknologinya gunakan itu (AI),” ujarnya, Kamis (29/1/2026), saat menghadiri peresmian Kantor Imigrasi di Jalan Patriot, Kabupaten Garut.
Ia juga menjelaskan bahwa penentuan logo HJG ke-213 tidak melalui mekanisme sayembara terbuka, melainkan hasil rembukan para seniman. Dari tujuh desain yang masuk ke Disparbud, dipilih tiga desain terbaik untuk diajukan kepada pimpinan daerah hingga akhirnya ditetapkan satu logo final.
Terkait kritik publik, Beni menyatakan bahwa pihaknya terbuka terhadap masukan dan akan melakukan penyempurnaan desain. Meski konsep dasar logo tetap dipertahankan, proses visual akan diperhalus kembali melalui sentuhan manual seniman grafis.
“Logo tetap akan itu (secara konsep), namun diproses ulang dengan karya baru desain grafis seniman,” pungkasnya.
Beni menambahkan, Pemerintah Kabupaten Garut tetap berkomitmen memberikan apresiasi kepada para seniman yang selama ini berkontribusi dalam pembuatan logo Hari Jadi Garut, termasuk mereka yang terlibat dalam perancangan logo HJG selama 10 tahun terakhir.
Polemik logo HJG ke-213 ini sekaligus menjadi refleksi tentang tantangan pemanfaatan teknologi dalam ruang kreatif publik, terutama ketika ekspektasi estetika dan partisipasi masyarakat semakin tinggi di era digital.***
0 Komentar
Anda belum bisa berkomentar, Harap masuk terlebih dahulu.