- Oleh Redaksi
- 08, Jun 2026
SuaraGarut.id – Pendiri Pondok Pesantren Nurul Huda Cibojong, KH Muhammad Nuh Addawami, menyampaikan pesan mendalam kepada para siswa kelas IX MTs Nurul Huda Angkatan ke-32 dalam acara pelepasan yang digelar di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut.
Dalam amanahnya, KH Muhammad Nuh Addawami menegaskan bahwa kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan menuntut ilmu. Menurutnya, ijazah yang diterima para siswa hanya menjadi tanda selesainya satu tahapan pendidikan, sementara proses belajar sejatinya berlangsung sepanjang hayat.
"Hari ini bukanlah akhir dari perjalanan menuntut ilmu. Ijazah yang diterima hanyalah penanda bahwa seseorang telah menyelesaikan satu tahapan belajar, bukan tanda bahwa proses belajar telah selesai," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam ajaran Islam, pendidikan berlangsung sejak manusia dilahirkan hingga akhir hayat. Karena itu, para santri dan siswa diharapkan terus memperdalam ilmu pengetahuan serta tidak merasa cukup dengan apa yang telah diperoleh selama di bangku madrasah.
KH Muhammad Nuh Addawami juga mengingatkan bahwa ilmu pada hakikatnya merupakan milik Allah SWT. Guru, kata dia, hanyalah perantara yang menyampaikan ilmu kepada para pencari ilmu. Oleh sebab itu, menghormati guru menjadi bagian penting dari upaya menghormati ilmu dan mensyukuri nikmat Allah SWT.
Menurutnya, Pondok Pesantren dan Madrasah Nurul Huda selama ini berupaya menjadi sarana untuk mengalirkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang bersumber dari Al-Qur'an, Sunnah Rasulullah SAW, serta warisan para ulama.
"Pondok Pesantren dan Madrasah Nurul Huda hanyalah sebuah saluran tempat mengalirnya ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Yang terpenting bukan berapa lama seseorang belajar di dalamnya, tetapi seberapa jauh ilmu itu meresap ke dalam hati dan membentuk akhlak," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga berpesan agar para lulusan tidak berhenti mengaji setelah menerima ijazah. Menurutnya, para ulama besar justru semakin giat menuntut ilmu ketika kedudukan dan pengetahuan mereka semakin tinggi.
Selain itu, ia mengingatkan para siswa agar tidak terlalu khawatir terhadap persoalan rezeki dan masa depan. Ia menilai ketakutan terhadap kehidupan sering kali menjadi penghalang seseorang untuk melanjutkan pendidikan dan memperdalam ilmu.
"Jangan pula terlalu takut memikirkan rezeki. Rezeki bukan hanya soal harta, tetapi juga kesehatan, keberkahan, keluarga yang baik, hati yang tenang, serta kesempatan untuk berbuat manfaat bagi sesama," tuturnya.
Mengutip pandangan Imam Al-Ghazali, KH Muhammad Nuh Addawami menjelaskan bahwa ilmu yang sesungguhnya bukan hanya banyaknya pengetahuan yang dihafal, melainkan ilmu yang mampu memberikan manfaat, memperbaiki akhlak, mendekatkan manusia kepada Allah SWT, dan membawa kemaslahatan bagi kehidupan.
Ia menambahkan bahwa ilmu yang paling mendasar adalah ilmu tentang Allah SWT. Dari pemahaman tersebut, seluruh cabang ilmu lainnya seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan, teknologi, hingga pertanian akan memiliki arah dan nilai kebermanfaatan yang jelas.
Kepada para lulusan, ia juga mendorong agar memiliki cita-cita yang tinggi serta tidak menjadi pribadi yang hanya memanfaatkan ilmu untuk kepentingan diri sendiri.
Dalam pesannya, ia mengangkat filosofi Sunda yang mengajarkan agar seseorang tidak hanya menjadi "ilmu sakuringeun" atau bermanfaat bagi dirinya sendiri, melainkan menjadi "ilmu sakurungeun" bagi keluarga dan "ilmu sakurilingeun" bagi masyarakat luas.
"Anak-anakku sekalian, bercita-citalah setinggi langit. Apa pun profesi yang kalian pilih kelak—menjadi ulama, guru, dokter, petani, pengusaha, teknisi, pegawai, atau profesi lainnya—semuanya mulia selama dijalani dengan niat ibadah dan memberikan manfaat bagi orang lain," ujarnya.
Menutup amanahnya, KH Muhammad Nuh Addawami berharap seluruh ilmu yang diperoleh para lulusan selama menempuh pendidikan di MTs Nurul Huda dapat menjadi ilmu yang bermanfaat, melahirkan amal saleh, membawa keberkahan dalam kehidupan, serta menjadi bekal kebaikan di dunia dan akhirat.
"Kelak, ketika nama kalian disebut orang, jangan hanya dikenang karena kecerdasan atau keberhasilan duniawi. Jadilah pribadi yang dikenang karena manfaatnya. Sebab sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat kepada manusia lainnya," pungkasnya.
Belum ada komentar.