- Oleh Redaksi
- 07, Apr 2026
SuaraGarut.id – Pemerintah Kabupaten Garut melalui Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBPPPA) Kabupaten Garut bergerak cepat menangani kasus seorang balita asal Kecamatan Singajaya, Bilqis (3), yang terlantar di perantauan setelah ibunya meninggal dunia di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.
Kepala DPPKBPPA Kabupaten Garut, Yayan Waryana, mengatakan pihaknya langsung melakukan langkah koordinasi lintas daerah setelah menerima laporan dari keluarga korban di Kampung Cisurian, Desa Sukawangi, Kecamatan Singajaya, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
“Begitu kami menerima laporan dari keluarga, kami langsung bergerak melakukan koordinasi dengan pihak rumah sakit dan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak di Kabupaten Kampar serta Provinsi Riau untuk memastikan kondisi ibu dan anak tersebut,” ujar Yayan., Rabu 8 April 2026 malam.

Kasus ini bermula ketika seorang perempuan bernama Nita Anita Sari (24), warga Garut, merantau bersama suami dan anaknya ke wilayah Koto Kampar. Namun, Nita mengalami musibah luka bakar dan harus menjalani perawatan di RSUD Bangkinang sejak 24 Maret 2026.
Dalam kondisi tersebut, anaknya dititipkan kepada tetangga setempat. Kabar duka datang pada 1 April 2026, ketika Nita dinyatakan meninggal dunia setelah beberapa hari dirawat.
Melalui musyawarah antara keluarga, pemerintah desa, dan pihak terkait, akhirnya diputuskan bahwa jenazah almarhumah dimakamkan di wilayah Kampar, Riau.
Menurut Yayan, keputusan tersebut diambil dengan berat hati, namun menjadi solusi paling realistis mengingat keterbatasan ekonomi keluarga.

“Dengan segala pertimbangan, keluarga menyetujui pemakaman dilakukan di sana. Fokus kami kemudian adalah memastikan keselamatan dan pemenuhan hak anak yang ditinggalkan,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa pihaknya langsung berkoordinasi dengan UPTD PPA Kabupaten Kampar untuk memastikan balita tersebut mendapatkan perlindungan sementara.
“Kami minta agar anak tersebut berada dalam pengawasan UPTD PPA setempat sampai proses pemulangan dilakukan. Ini penting agar hak-hak anak tetap terpenuhi,” tegas Yayan.
Lebih lanjut, proses pemulangan Bilqis difasilitasi oleh pemerintah daerah dengan melibatkan Kabid Pemberdayaan Perempuan, Iwa Kartiwa, serta didampingi oleh Kabid Perlindungan Anak DPPKBPPPA Kabupaten Garut, Linlin. Keduanya turut mengawal langsung proses kepulangan dari Riau hingga ke Garut.
Seluruh proses ini juga berada di bawah supervisi Kepala UPTD PPA Kabupaten Kampar, Linda Wati.
Linda Wati yang mendampingi peroses pemulangan Bilqis mengungkapkan bahwa proses pemantauan terhadap Bilqis sejak awal tidak mudah karena terkendala akses menuju lokasi yang cukup sulit.
Ia menyebutkan bahwa perjalanan menuju lokasi membutuhkan waktu hingga empat jam, sehingga membutuhkan upaya ekstra dalam memastikan kondisi anak tetap aman.
Linda juga menyampaikan bahwa dirinya turut mendampingi Bilqis selama beberapa hari di Kampar setelah sang ibu meninggal dunia, hingga akhirnya ikut mengawal proses pemulangan anak tersebut ke Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Proses kepulangan Bilqis disaksikan oleh anggota DPRD Kabupaten Garut Agus Muhammad Sutarman, Bilqis tiba di Kabupaten Garut pada Rabu, 8 April 2026 malam hari dan langsung dipertemukan dengan keluarga yang telah menunggu di kantor DPPKBPPPA Kabupaten Garut.
Ia juga menegaskan bahwa keterbatasan ekonomi keluarga menjadi alasan pemerintah daerah turun langsung memberikan fasilitasi penuh.
“Karena kondisi keluarga kurang mampu, kami dari pemerintah daerah berupaya memfasilitasi semaksimal mungkin. Ini bagian dari tanggung jawab kami dalam melindungi warga, khususnya anak-anak,” katanya.
Yayan menegaskan, kasus ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah, terutama dalam perlindungan perempuan dan anak di situasi darurat, termasuk bagi warga yang berada di luar daerah.
“Ini bukan hanya soal pemulangan, tapi bagaimana negara hadir memastikan anak tersebut aman dan mendapatkan haknya. Itu yang menjadi prioritas kami,” pungkasnya.
Pemerintah Kabupaten Garut melalui DPPKBPPA saat ini terus berupaya memastikan seluruh kebutuhan pemulangan terpenuhi, mengingat kondisi ekonomi keluarga yang terbatas.
Kepulangan Bilqis diharapkan menjadi secercah harapan di tengah duka mendalam yang dialami keluarga.***
Belum ada komentar.