- Oleh Redaksi
- 20, Jun 2026
SuaraGarut.id – Lagu berjudul Lalaki Langit, Lalanang Bejat karya Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial. Lirik lagu tersebut menuai kritik karena dinilai mengandung stereotip terhadap perempuan dan menyentuh isu biologis yang dianggap merendahkan.
Perdebatan muncul karena sejumlah bagian lagu membandingkan pengalaman menjadi laki-laki dan perempuan. Lirik yang menyinggung kehamilan, keguguran, menstruasi, hingga penggunaan atribut perempuan dipandang sebagian kalangan sebagai candaan yang tidak sensitif terhadap isu gender.
Salah satu kritik datang dari Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, ia mengaku tidak menemukan nilai penghormatan terhadap perempuan dalam lagu tersebut.
"Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan," tulis Atalia, melansir dari detiknews.
Menurut Atalia, persoalan tersebut bukan sekadar soal selera seni atau kebebasan berekspresi. Ia menilai pilihan diksi dalam lagu bertentangan dengan nilai budaya Sunda yang selama ini menjunjung tinggi penghormatan terhadap sesama.
"Dari begitu banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah.... Dari begitu banyak pesan yang bisa mengangkat nilai kehidupan.... Mengapa justru narasi seperti ini yang dipilih? Sebodoh apa pun saya memahami budaya Sunda, saya tahu bahwa budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi.... Dan saya percaya, budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan," jelas Atalia.
Ia juga menilai perjuangan melawan budaya patriarki masih menjadi tantangan yang harus terus dihadapi.
"Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?" pungkasnya.
Menanggapi polemik yang berkembang, Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat. Ia menegaskan lagu tersebut tidak dimaksudkan untuk menyinggung pihak tertentu.
"Maaf jika ada pihak merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu. Namun tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu itu murni cerita tentang diri saya sendiri," tutur Om Zein.
Polemik lagu tersebut pun memicu diskusi di ruang publik mengenai batas antara kebebasan berekspresi dalam berkarya dengan tanggung jawab sosial, terutama ketika karya tersebut berasal dari seorang pejabat publik.***
Belum ada komentar.