BI Ungkap Penyebab Rupiah Tertekan, dari Utang hingga Arus Modal ke Amerika Serikat


[Karyawan memegang mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)]

SuaraGarut.id – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, memaparkan sejumlah faktor yang menyebabkan nilai tukar rupiah mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat. Penjelasan tersebut disampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di kompleks Parlemen, Senin, 18 Mei 2026.

Menurut Perry, pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor domestik dan global. Meski demikian, Bank Indonesia masih optimistis rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang tahun 2026 tetap berada dalam kisaran asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Perry menilai kondisi rupiah saat ini berada pada level undervalued atau lebih rendah dibanding nilai fundamentalnya.

“Sehingga kenapa kami sampaikan bahwa nilai tukar sekarang itu undervalue. Rujukannya undervalued karena memang kami masih meyakini 2026 nih rerata nilai tukar seluruh tahun adalah Rp 16.500 (sesuai APBN), kisarannya Rp 16.200 sampai Rp 16.800 itu masih kami meyakini ya, karena rerata year to date-nya Rp 16.900,” tutur Perry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di kompleks Parlemen, Senin (18/5/2026) yang disiarkan melalui siaran Youtube TVR Parlemen.

Dalam pemaparannya, Perry menjelaskan bahwa kebutuhan devisa meningkat pada periode April hingga Juni sehingga turut memberi tekanan terhadap rupiah. Permintaan dolar AS disebut meningkat karena sejumlah kebutuhan pembayaran rutin.

“Karena April, Mei, Juni ini ada demand untuk divisa itu besar untuk biasanya ada kemarin jemaah haji, terus kemudian pembayaran dividen dan juga pembayaran utang, seperti itu ya,” lanjut Perry.

Ia menyebut beberapa faktor domestik yang memengaruhi pelemahan rupiah antara lain meningkatnya kebutuhan devisa untuk keberangkatan jemaah haji, pembayaran dividen perusahaan, serta kewajiban pembayaran utang dalam valuta asing.

Selain faktor dalam negeri, Perry juga menyoroti dampak kondisi global terhadap pergerakan nilai tukar rupiah. Menurutnya, tingginya suku bunga internasional membuat arus modal global bergerak menuju negara maju, terutama Amerika Serikat.

Kondisi tersebut dinilai memicu tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Tentu saja suku bunga global itu akan berdampak di dalam negeri ya. Kalau suku bunga dalam negeri nggak naik ya outflow ya, tapi kalau nggak mau outflow, suku bunga dalam negeri itu harus naik kan. Artinya, terjadi suatu pelarian modal dari emerging market ke negara maju, khususnya Amerika Serikat,” jelas Perry.

Bank Indonesia, lanjut Perry, terus memperkuat koordinasi kebijakan bersama pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) guna menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global.

Langkah tersebut mencakup sinergi kebijakan moneter, makroprudensial, dan fiskal untuk menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.***

  • -

0 Komentar :

    Belum ada komentar.

Mungkin anda suka