- Oleh Redaksi
- 11, May 2026
SuaraGarut.id - BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kondisi cuaca yang tidak menentu selama masa pancaroba hingga pertengahan Mei 2026. Meski suhu udara di sejumlah wilayah Indonesia sempat mencapai 36,5 derajat Celsius, potensi hujan lebat hingga sangat lebat masih berpeluang terjadi di berbagai daerah.
Fenomena cuaca yang berubah-ubah ini dipengaruhi kondisi peralihan musim yang tengah berlangsung di Indonesia. Berdasarkan pengamatan BMKG pada 7–10 Mei 2026, minimnya tutupan awan menyebabkan radiasi matahari langsung mencapai permukaan bumi secara maksimal sehingga memicu peningkatan suhu udara di sejumlah wilayah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, hingga Papua Barat.
Kondisi cuaca panas tersebut justru mempercepat pembentukan awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan deras secara tiba-tiba pada sore hingga malam hari, terutama di wilayah dengan kandungan uap air tinggi.
BMKG mencatat beberapa daerah telah mengalami hujan dengan intensitas ekstrem. Sulawesi Tenggara mencatat curah hujan mencapai 146,0 mm per hari, sementara Papua Tengah mencapai 143,2 mm per hari. Selain itu, wilayah Aceh, Riau, dan Kalimantan Barat juga mengalami hujan lebat dengan intensitas di atas 60 mm per hari.
Kondisi cuaca ekstrem ini turut dipengaruhi kombinasi sejumlah gangguan atmosfer global dan regional seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, Gelombang Rossby Ekuatorial, serta Mixed Rossby-Gravity. Aktivitas Ex-Siklon Tropis Hagupit di utara Papua juga disebut ikut memicu pertumbuhan awan hujan di kawasan Indonesia timur.
Memasuki pertengahan Mei, Monsun Australia yang membawa massa udara kering diperkirakan mulai menguat sebagai tanda awal musim kemarau. Namun BMKG mendeteksi adanya potensi pelemahan signifikan pada monsun tersebut yang dapat meningkatkan kembali kandungan uap air di wilayah selatan Indonesia dan memicu pertumbuhan awan hujan baru.
BMKG meminta masyarakat di wilayah Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta sebagian Sulawesi dan Kalimantan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem.
Masyarakat juga diimbau mewaspadai kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir kilat, tanah longsor, dan genangan air, terutama setelah periode cuaca panas berkepanjangan. Untuk mendapatkan informasi cuaca terkini, warga diminta rutin memantau aplikasi resmi InfoBMKG maupun kanal informasi pemerintah.
Belum ada komentar.