- Oleh Redaksi
- 28, Apr 2026
SuaraGarut.id – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada awal pekan perdagangan, Senin, 4 Mei 2026. Mata uang Indonesia tersebut ditutup melemah hingga mendekati level Rp17.400 per dolar Amerika Serikat.
Pada penutupan perdagangan sore hari, rupiah tercatat berada di posisi Rp17.394 per dolar AS, melemah 57 poin dari posisi sebelumnya di Rp17.353. Sepanjang sesi perdagangan, pelemahan sempat mencapai 60 poin. Sejak pembukaan pagi, rupiah sudah melemah 4 poin ke level Rp17.341 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah terutama dipengaruhi faktor eksternal, khususnya kondisi geopolitik global.
"Yang menyebabkan rupiah melemah ini masih dari eksternal, dimana di Eropa Timur, Ukraina terus melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah minyak di Rusia. Dan kita lihat bahwa kilang minyak di Rusia banyak yang terkena drone," kata Ibrahim dikutip pada Senin, 4 Mei 2026.
Ia menyebut ketegangan di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran serta konflik di Eropa Timur menjadi faktor utama yang memicu ketidakpastian pasar global.
Serangan terhadap infrastruktur energi di Rusia turut meningkatkan kekhawatiran investor, sehingga memberikan tekanan tambahan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Meski demikian, kondisi fundamental ekonomi domestik dinilai masih relatif kuat. Hal ini tercermin dari neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2026 yang mencatat surplus sebesar US$3,32 miliar, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya US$1,27 miliar.
Namun, penguatan fundamental tersebut belum cukup menahan laju pelemahan rupiah karena tekanan eksternal masih mendominasi.
Indeks dolar AS yang bertahan di level 98,144 juga menunjukkan penguatan mata uang Amerika di tengah ketidakpastian global, sehingga semakin menekan rupiah.
Dengan posisi Rp17.394 per dolar AS, level psikologis Rp17.400 kini menjadi perhatian utama pelaku pasar. Sejak pertama kali menembus Rp17.000 pada akhir April 2026, rupiah tercatat terus mengalami pelemahan dalam waktu singkat, mencerminkan sensitivitas tinggi terhadap dinamika global.***
Belum ada komentar.