Gejolak Global Tekan Rupiah, Nilai Tukar Diperkirakan Bergerak di Kisaran Rp17.200 per Dolar AS


[Ilustrasi Rupiah terhadap Dolar/pina.id]

SuaraGarut.id - Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih berada di bawah tekanan pada awal perdagangan pekan depan, seiring meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Meskipun sempat menguat tipis ke level Rp17.229 per dolar AS, tekanan eksternal dinilai masih cukup kuat menahan penguatan mata uang domestik.

Analis mata uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.220 hingga Rp17.260 per dolar AS dengan kecenderungan melemah, melansir dari pikiran-rakyat.com.

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar. Situasi semakin memanas setelah negosiasi gencatan senjata menemui jalan buntu, sehingga meningkatkan kekhawatiran investor global.

Salah satu sorotan utama adalah potensi gangguan di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia. Ancaman blokade di wilayah tersebut memicu kekhawatiran terhadap krisis energi global yang dapat berdampak luas pada perekonomian dunia.

Selain itu, pernyataan dari Donald Trump terkait situasi militer Iran turut memperburuk sentimen pasar. Risiko meningkatnya konflik berkepanjangan membuat investor cenderung menghindari aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Di sisi lain, meningkatnya insiden penangkapan kapal di jalur perdagangan internasional juga menambah tekanan terhadap stabilitas pasar global, sehingga berdampak langsung pada pergerakan rupiah.

Pengamat ekonomi Ryan Kiryanto menilai bahwa upaya stabilisasi rupiah tidak bisa hanya mengandalkan Bank Indonesia. Menurutnya, diperlukan sinergi kebijakan lintas sektor untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Ia menyebutkan sejumlah langkah strategis, seperti penyesuaian kebijakan perbankan terkait pembelian valuta asing, dorongan substitusi impor di sektor industri, serta harmonisasi kebijakan antarotoritas melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Ryan juga menilai bahwa target kurs dalam APBN 2026 di kisaran Rp16.500 per dolar AS memerlukan dukungan kebijakan yang konsisten dan terintegrasi.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak hanya berdampak pada pasar keuangan, tetapi juga berpotensi merembet ke sektor riil seperti perdagangan dan investasi. Selain itu, volatilitas harga komoditas global juga dapat membatasi ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga acuannya.

Dengan berbagai tekanan tersebut, pergerakan rupiah dalam waktu dekat diperkirakan masih akan diwarnai fluktuasi tinggi, mengikuti dinamika geopolitik dan respons kebijakan ekonomi dalam negeri.***

  • -

0 Komentar :

    Belum ada komentar.

Mungkin anda suka