- Oleh Redaksi
- 29, Apr 2026
SuaraGarut.id – Upaya memperkuat karakter generasi muda di tengah derasnya arus digital terus dilakukan berbagai pihak. Salah satunya melalui sinergi antara pemahaman bela negara dan pola asuh orang tua (parenting) yang dinilai menjadi kunci dalam menghadapi tantangan zaman.
Kegiatan digelar di lingkungan pendidikan, di Madrasah Aliyah Roudhotun Nawawi, Kecamatan Karangpawitan, Garut. Kegiatan ini mengangkat tema edukasi bullying di sekolah sebagai bagian dari upaya perlindungan anak.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPPKBPPPA) Kabupaten Garut, Yayan Waryana, menegaskan bahwa bela negara saat ini tidak lagi terbatas pada aspek fisik, tetapi telah merambah ke ruang digital.

Menurutnya, dengan jumlah pengguna internet di Indonesia yang mencapai ratusan juta dan didominasi generasi muda, ancaman di dunia maya menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.
“Bela negara hari ini juga berarti bagaimana kita mampu menjaga diri dan lingkungan dari ancaman digital, seperti hoaks, perundungan siber, hingga penyalahgunaan teknologi,” ujarnya didampingi Kabid Pemberdayaan Perempuan Iwa Kartiwa, Rabu 29 April 2026.
Ia menjelaskan, pelajar saat ini berada di garis depan dalam menghadapi ancaman non-militer. Tingginya paparan informasi di media sosial membuat mereka rentan terhadap hoaks, disinformasi, hingga perilaku negatif di ruang digital.
Fenomena cyberbullying misalnya, menjadi salah satu persoalan serius yang berdampak pada kondisi psikologis anak dan remaja. Selain itu, ancaman siber seperti phishing dan malware juga terus meningkat seiring perkembangan teknologi.
Dalam konteks tersebut, Yayan menekankan pentingnya penanaman nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan digital. Menurutnya, etika, toleransi, serta tanggung jawab harus tetap menjadi landasan dalam berinteraksi di dunia maya.
“Pelajar harus menjadi warga digital yang cerdas dan beretika, mampu memilah informasi, serta tidak mudah terprovokasi oleh konten yang dapat memecah belah persatuan,” katanya.
Ia juga mendorong langkah-langkah konkret seperti pengamanan akun digital melalui autentikasi ganda, serta mengajak generasi muda untuk aktif menciptakan konten positif dan edukatif.
Selain aspek bela negara digital, Yayan menegaskan bahwa peran keluarga tetap menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter anak. Pola asuh yang tepat dinilai mampu menjadi benteng pertama dalam melindungi anak dari berbagai risiko sosial.
“Keluarga adalah lingkungan pertama dan utama. Komunikasi yang baik antara orang tua dan anak menjadi kunci dalam mencegah berbagai permasalahan, mulai dari bullying, penyalahgunaan NAPZA, hingga perilaku menyimpang,” jelasnya.
Ia menambahkan, orang tua perlu lebih adaptif terhadap perkembangan zaman, termasuk dalam memahami penggunaan teknologi oleh anak. Pengawasan yang bijak, disertai pendekatan yang humanis, dinilai lebih efektif dibandingkan pembatasan yang bersifat kaku.
“Orang tua perlu membangun komunikasi yang positif, membiasakan nilai agama dan budi pekerti, serta mengatur penggunaan gadget secara proporsional,” tambahnya
Melalui sinergi antara pemahaman bela negara digital dan penguatan peran keluarga, pemerintah berharap dapat membentuk generasi muda yang tangguh, berkarakter, serta mampu menjaga kedaulatan bangsa di tengah tantangan era digital.
“Harapan kami, generasi muda tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara karakter dan mampu menjadi agen kebaikan di tengah masyarakat,” pungkas Yayan.***
Belum ada komentar.