- Oleh Redaksi
- 14, Apr 2026
SuaraGarut.id – Peringatan Hari Kartini di Kabupaten Garut diisi dengan refleksi mendalam mengenai perubahan peran perempuan di tengah arus disrupsi teknologi. Dalam dialog yang digelar di Farm House, Kecamatan Cilawu, Selasa (21/4/2026), muncul sorotan bahwa perempuan kini dinilai semakin menjauh dari nilai-nilai ekologi.
Fenomena ini salah satunya dipicu oleh meningkatnya penggunaan gawai di berbagai kalangan, termasuk anak-anak. Ketergantungan terhadap teknologi dinilai telah membentuk pola pikir dan perilaku baru, di mana kebutuhan dan keinginan kerap dipengaruhi oleh apa yang terlihat di layar.
Kondisi tersebut tergambar dari perilaku anak usia sekolah dasar yang menangis karena menginginkan produk perawatan diri, mencerminkan pergeseran nilai dalam kehidupan sehari-hari.
Aktivis perempuan dan tokoh lingkungan Garut, Nissa Saadah Wargadipura, mengungkapkan bahwa disrupsi teknologi tidak hanya berdampak pada pola konsumsi, tetapi juga memengaruhi relasi sosial dan emosional anak. Ia menyoroti meningkatnya kasus perundungan serta berkurangnya peran orang tua yang perlahan tergantikan oleh gawai.
"Disrupsi ini tidak hanya soal teknologi, tetapi juga menyangkut emosi. Ketika emosi tidak terkelola dengan baik, dampaknya bisa sangat luas, termasuk pada cara kita memandang kehidupan dan lingkungan," ujarnya.
Ia menambahkan, persoalan emosi memiliki keterkaitan erat dengan kondisi lingkungan yang semakin terdegradasi. Penurunan kualitas lingkungan turut memengaruhi kualitas hidup, termasuk kesehatan reproduksi.
Selain itu, pola konsumsi yang tidak sehat, seperti tingginya asupan gula dan makanan instan, dinilai memperburuk kondisi generasi muda. Hal ini berpotensi menghambat perkembangan fisik dan kemampuan berpikir anak.
Dalam konteks tersebut, perempuan dinilai memiliki peran strategis dalam menentukan arah perubahan. Kesadaran perempuan menjadi kunci, apakah akan mengikuti arus disrupsi atau membangun generasi yang lebih kuat dan sehat.
Salah satu langkah yang didorong adalah kembali pada konsep real food atau makanan alami, sebagai upaya memperbaiki kualitas hidup dari hulu.
Nissa juga menyinggung konsep “Kasur, Sumur, Dapur” yang kini dimaknai ulang secara lebih kontekstual. Kasur berkaitan dengan pentingnya istirahat cukup, sumur menjadi simbol keberlanjutan lingkungan, dan dapur mencerminkan keberagaman pangan yang kini mulai ditinggalkan.
"Tiga nilai itu yang sekarang jauh dari perempuan, bagaimana mau menghadirkan anak-anak yang kuat di masa depan sedangkan kita luput dari hal penting tadi," ungkapnya.
Sementara itu, Bidang Perempuan dan Anak DPP PDI Perjuangan, Bintang Puspayoga, menyampaikan bahwa terdapat sembilan poin penting yang dibahas dalam refleksi Hari Kartini tersebut. Kegiatan ini mengusung tema meneladani perempuan akar rumput sebagai bahan evaluasi bersama.
"Dari dialog ini, kami berkomitmen untuk mencari solusi atas berbagai rintangan yang dihadapi perempuan," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti sosok perempuan asal Garut, Raden Ayu Lasminingrat, yang telah diusulkan sebagai pahlawan nasional sejak 2010. Lasminingrat dikenal sebagai pelopor pendidikan perempuan di Garut.
PDI Perjuangan, lanjutnya, berkomitmen mendukung berbagai upaya untuk mendorong penetapan Lasminingrat sebagai pahlawan nasional melalui penguatan kajian dan dukungan kelembagaan.
"Nanti DPC PDI Perjuangan Garut akan mendorong agar RA Lasminingrat ditetapkan sebagai pahlawan nasional, DPP juga akan bantu, kita akan wujudkan harapan masyarakat Garut," tandasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Garut, Ilham F Wiratmaja, menegaskan pentingnya penguatan ekonomi berbasis potensi lokal sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian daerah sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Ia menyampaikan bahwa dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan, pihaknya berupaya memaksimalkan penggunaan sumber daya lokal, baik dari sisi konsumsi maupun dukungan terhadap pelaku usaha setempat.
"Semua sumbernya adalah lokal, kecuali mungkin tadi ada air minum kemasan ya yang masih sulit untuk kita substitusi di lokal ya. Jadi itu sebenarnya itu cermin dari komitmen kita PDI Perjuangan untuk mendorong meningkatkan perekonomian daerah berbasis pada sumber-sumber lokal dan untuk kebutuhan lokal. Karena kita yakin dengan lokalitas, kreativitas, dan kemudian komitmen terhadap apa, dengan ide-ide kreatif ya, itu semua akan punya implikasi pada perbaikan lingkungan hidup ya dan juga tentu generasi ke depan. Gitu aja dari saya, terima kasih."
Menurutnya, pendekatan berbasis lokal tidak hanya berdampak pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial serta mendorong terciptanya pola hidup yang lebih ramah lingkungan. Hal ini dinilai sejalan dengan semangat refleksi Hari Kartini yang menempatkan perempuan sebagai aktor penting dalam membangun generasi yang sehat, mandiri, dan berkelanjutan.***
Belum ada komentar.