Pemkab Garut Siapkan Program Orang Tua Asuh untuk Tekan Angka Anak Putus Sekolah


[Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin/Diskominfo]

SuaraGarut.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut tengah menyiapkan program orang tua asuh sebagai salah satu langkah untuk mengurangi angka anak putus sekolah. Program tersebut akan melibatkan masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi agar turut membantu biaya pendidikan anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, mengatakan pemerintah daerah saat ini sedang melakukan pendataan anak-anak yang akan menjadi sasaran program tersebut. Setelah data rampung, Pemkab akan mengajak berbagai kalangan untuk menjadi orang tua asuh.

"Jadi, kita akan menginventarisir anak-anak yang mau dijadikan anak asuh, dan kita akan mengajak orang-orang yang mampu untuk ikut serta," kata Bupati Garut Abdusy Syakur Amin usai melakukan apel HUT Damkar.

Menurut Syakur, orang tua asuh nantinya dapat berasal dari berbagai kalangan, mulai dari aparatur sipil negara (ASN), pelaku usaha, hingga masyarakat yang memiliki kemampuan finansial dan kepedulian terhadap dunia pendidikan.

Selain melibatkan individu, Pemkab Garut juga akan menggandeng sejumlah lembaga, seperti Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri), untuk membantu pembiayaan pendidikan anak-anak yang terkendala ekonomi.

"Nanti ada orang tua yang akan membantu membiayai kebutuhan anaknya," kata Bupati.

Terkait informasi mengenai sekitar 19 ribu anak putus sekolah di Kabupaten Garut, Syakur menjelaskan bahwa angka tersebut masih akan diverifikasi kembali oleh dinas terkait agar sesuai dengan kondisi terbaru di lapangan.

Saat ini, pemerintah daerah masih melakukan inventarisasi terhadap anak-anak yang putus sekolah dan bersedia mengikuti program orang tua asuh agar dapat kembali melanjutkan pendidikan, baik ke jenjang SMP maupun SMA sederajat.

Ia menjelaskan, berdasarkan data pokok pendidikan (Dapodik), angka putus sekolah paling banyak terjadi saat transisi dari jenjang SD ke SMP. Sementara itu, tingkat partisipasi pendidikan di jenjang sekolah dasar masih tergolong tinggi.

"Data dari dapodik (data pokok pendidikan) itu sebenarnya turunnya dari ketika masuk SMP, kalau SD itu angka partisipasi sekolah kita bagus," katanya.

Bupati menuturkan, penyebab anak putus sekolah cukup beragam, mulai dari keterbatasan ekonomi, kendala biaya pendidikan, dikeluarkan dari sekolah, akses menuju sekolah yang jauh, hingga faktor budaya.

Melalui program orang tua asuh tersebut, Pemkab Garut berharap angka putus sekolah dapat ditekan hingga mencapai target tidak ada lagi anak yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan.

Untuk mendukung pelaksanaan program, pemerintah daerah juga tengah merancang sebuah aplikasi digital yang akan menjadi sarana komunikasi sekaligus pemantauan antara orang tua asuh dengan anak asuh.

"Kita lagi mendesain semacam aplikasi yang jadi penghubung antara orang tua asuh dan anak asuh," katanya.***

  • -

0 Komentar :

    Belum ada komentar.

Mungkin anda suka